Berkarya Sebagai Media Wakaf Kebaikan di Era Disrupsi

Baru-baru ini, tepatnya Sabtu 3 April 2021, Dr. Robby Habiba Abror, M.Hum, Wakil Dekan bidang II Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan kalijaga mengisi acara di tabligh akbar yang diadakan oleh Universitas Aisyiyah Solo. Acara tersebut dibuka panitia Immawan Nurico Irhamda Ariansyah dan dihadiri oleh Rektor Unisa Riyani Wulandari, S.Kep., Ns, M.Kep. Sedangkan peserta yang berpartisipasi kurang lebih 200 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, ormas, dan mahasiswa dari luar Unisa. Dalam hal ini, Robby selaku narasumber menyampaikan persiapan menghadapi bulan Ramadhan.

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu oleh setiap muslim, bahkan di kanal-kanal media sosial (komenan youtobe misalnya), banyak non-muslim sering juga mendoakan umat muslim untuk menerima keberkahan di bulan Ramadhan. Mereka yang menunggu bulan Ramadhan mesti penuh suka cita, karena hanya mereka yang tidak beriman yang akan merasa sedih dan susah ketika bulan Ramadhan tiba.” Sapanya

Dalam mempersiapkan bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pemuda baik kelompok ataupun individual terkait dengan kebaikan-kebaikan yang bernilai pahala berupa membaca dan berkarya. Robby menyampaikan bagaimana komitmen bersama untuk mengawal dakwah komunitas di ranah media sosial. Adapun hal-hal yang bisa dilakukan antara lain, dalam dunia literasi, dapat membuka ruang baca, perpustakaan keliling dan mengajak masyarakat untuk giat membaca. Ajakan tersebut bisa dilakukan dengan media sosial dengan membuat konten youtobe misalnya, membuat konten yang konsen pada kiat-kiat generasi millenial di era disrupsi suka membaca, atau membuat film pendek yang berisi manfaat membaca, dan inovasi media sosial lainnya.

Selain membaca, Robby juga menekankan untuk tidak melupakan tradisi menulis. Generasi muda yang biasanya suka perkumpulan dalam sebuah komunitas, dapat mengisi perkumpulan dengan cara yang lebih produktif. Adanya perkumpulan ini dapat digunakan sebagai ajang untuk bertukar ide dan gagasan sehingga memudahkan mereka menemukan ide untuk ditulis. Atau lebih sederhananya lagi, kita bisa menulis apa saja yang sudah kita lakukan selama ini, yang berbau sharing dengan format opini, prosa, puisi, cerpen, sajak, dan lain sebagainya.

“kalau kita mau menuangkan ide dan gagasan kita ke dalam sebuah tulisan, maka dengan tidak sengaja kita telah melakukan kegiatan wakaf yang dinamakan 3W, Wakaf Ilmu Pengetahuan, Wakaf Waktu dan Wakaf Kepemilikan”. Tuturnya

“wakaf ilmu pengetahuan yang dilakukan dengan cara menulis di berbagai media utamanya media sosial pada era serba teknologi lebih dapat dinikmati. Karena banyak pemuda yang lebih suka memegang gadgetnya dari pada buku secara langsung. Dengan itu, kita telah menebarkan saham-saham kebaikan pada para pembaca”. Imbuhnya

Semboyan yang kemudian muncul ialah

setiap aktivis adalah jurnalis,

setiap aktivis media sosial adalah dai,

dan setiap aktivis komunitas adalah produsen makna.