Prof. Dr. Al Makin Menutup Lisafa Centre’s Shortcourse

Sabtu lalu (8/5) merupakan kelas terakhir dari serangkaian shortcourse mengenai filsafat, agama, dan keragaman yang diselenggarakan oleh Lisafa’s Centre yang bermarkas di Penang, Malaysia bekerjasama dengan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Shortcourse ini bertema ‘Philosophy, Religion, and Diversity’, dilaksanakan setiap Sabtu selama lima kali pertemuan yakni 10 April, 17 April, 24 April, 1 Mei, dan 8 Mei 2021. Pada kali yang terakhir, sebelum acara inti pemaparan materi yang nantinya disampaikan oleh Dr. Fatimah, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Phil. Al Makin terlebih dahulu menyampaikan beberapa kesan.
Prof. Al Makin sangat berbangga atas terjalinnya kerjasama kedua lembaga tersebut dan berharap semoga kolaborasi tidak berhenti pada satu kegiatan ini saja. Dengan bahasa yang bercampur Indonesia-Inggris beliau menyampaikan, “Malaysia dan Indonesia bersaudara dalam banyak hal, we share lots of things in common, religion, tradition, culture, and we have to bridge this so we can do more productive collaborations.” ungkapnya.
Selain itu, Prof. Al Makin menyinggung sebuah buku yang baru beliau baca berjudul ‘Why there’s no muslim philosopher?’ yang mempermasalahkan kuantitas filsuf Muslim yang jumlahnya sangat sedikit, jauh dari jumlah populasi negara-negara yang banyak muslim di dalamnya. “Compare to the whole population of muslim in the world, the number is just too tiny.” Paparnya dengan nada bicara prihatin. Hal ini terjadi sebenarnya bukan karena magnum opus nya, tapi disebabkan karena readership. Kita para akademisi tidak cukup berani untuk mengatakan guru-guru kita sebagai philosopher.
“Selamat menyambut Idul Fitri. Tetapi di Indonesia sudah jelas untuk saling mengunjungi, No. halal bi halal. Jangan lupa berbahagia karena filsafat adalah as-sa’aadah.” tutupnya. *HSR