Yogyakarta, 25 September 2026 —
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
menyelenggarakan Expert Talk bertajuk “Filsafat Pohon dan Kesadaran
Ekoteologis”. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi, praktisi lingkungan,
dan pemerhati ekologi untuk memperluas perspektif mengenai hubungan manusia,
alam, filsafat, serta dimensi spiritual dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan
pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 09.00 WIB bertempat di Ruang Rapat
FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Agenda ini menghadirkan Dekan Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prof. Dr. Robby Habiba Abror, M.Hum., sebagai Keynote
Speaker. Sementara itu, lima narasumber dari latar belakang keilmuan dan
pengalaman yang beragam turut memberikan perspektif dalam pembahasan mengenai
filsafat pohon dan kesadaran ekoteologis.
Para narasumber yang dihadirkan
dalam kegiatan tersebut adalah Yulia Arisnani Widyangsingh, M.B.A., Ph.D.,
Dosen FEB Universitas Gadjah Mada; Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K., M.Sc.,
ahli geohidrologi dari UPN Veteran Yogyakarta; Tomon Haryo Wirosobo, S.Sos.,
M.Ag., Pemimpin Restorator Ekologi; Rahmawati Husein, MCP, Ph.D., Ketua Lembaga
Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Aisyiyah; serta Drg.
Hj. Hanum Salsabiela Rais, M.B.A., mahasiswa S3 KBM UGM sekaligus penulis 99
Cahaya di Langit Eropa.
Keberagaman latar belakang para
pembicara memberikan ruang bagi pembahasan ekologi dari berbagai sudut pandang.
Perspektif filsafat, geohidrologi, ekonomi dan pembangunan, restorasi ekologi,
gerakan masyarakat, hingga pengalaman intelektual dan literasi dapat
dipertemukan dalam satu forum. Hal tersebut sejalan dengan karakter keilmuan
FUPI yang membuka ruang dialog lintas disiplin dalam merespons
persoalan-persoalan aktual di tengah masyarakat.
Tema filsafat pohon menjadi salah
satu titik penting dalam kegiatan ini. Pohon tidak hanya dapat dipahami sebagai
bagian dari ekosistem yang memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat menjadi
objek refleksi filosofis mengenai kehidupan, keberlanjutan, keterhubungan, dan
relasi manusia dengan lingkungan. Dalam konteks kehidupan modern, keberadaan
pohon berkaitan erat dengan berbagai persoalan seperti perubahan iklim,
ketersediaan air, kualitas udara, keberlangsungan keanekaragaman hayati, serta
keberlanjutan ruang hidup manusia.
Sementara itu, gagasan mengenai
kesadaran ekoteologis membuka pembahasan mengenai hubungan antara kepedulian
terhadap lingkungan dan kesadaran keagamaan. Ekoteologi secara umum memberikan
perhatian terhadap relasi manusia dengan alam dalam perspektif keagamaan dan
spiritual. Dalam konteks masyarakat yang memiliki kehidupan religius yang kuat,
kesadaran ekologis dapat ditempatkan tidak hanya sebagai persoalan teknis dan
sosial, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual
manusia.
Pembahasan tersebut menjadi
relevan di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan. Kerusakan
ekosistem, perubahan tata guna lahan, pencemaran, berkurangnya kawasan hijau,
serta berbagai persoalan terkait sumber daya alam membutuhkan pendekatan yang
tidak berhenti pada aspek kebijakan dan teknologi. Perubahan cara pandang
manusia terhadap alam juga menjadi bagian penting dalam membangun perilaku yang
lebih berkelanjutan.
Sebagaimana yang diuraikan
Rahmawati Husein bahwa pohon tidak semestinya dipandang sekadar sebagai kayu,
komoditas, bahan bakar, atau lahan yang dapat dikonversi, tetapi sebagai
makhluk hidup dan bagian dari jaringan kehidupan yang memungkinkan kehidupan
lain terus berlangsung. Menurutnya, krisis ekologis bukan semata krisis sumber
daya, melainkan krisis cara manusia memahami dirinya di tengah jaringan
kehidupan. Karena itu, diperlukan pergeseran dari antroposentrisme menuju
ekosentrisme, dari manusia yang menguasai alam menuju manusia yang mengemban
amanah, sebagaimana tercermin dalam konsep khalifah pada QS. Al-Baqarah: 30. Ia
juga menunjukkan bahwa pohon bukan figur pinggiran dalam Al-Qur’an, sebab pohon
hadir sebagai tanda kehidupan, sumber pangan, simbol, dan bagian dari ciptaan
yang tunduk kepada-Nya. Dari landasan tersebut, ia memperkenalkan gagasan
ecojihad perempuan melalui penanaman pohon, yakni gerakan yang tidak berhenti
pada menanam, tetapi berlanjut pada merawat, melindungi, memulihkan, hingga
mendorong perubahan perilaku dan kebijakan. Pohon yang ditanam tetapi tidak
dirawat, ujarnya, masih sebatas niat yang belum menjadi tanggung jawab. Gagasan
ini antara lain dipraktikkan Aisyiyah melalui penanaman pohon dengan sistem
pola asuh.
Dari sudut pandang ekonomi dan
pembangunan, Yulia Arisnani Widyaningsih, M.B.A., Ph.D. membawakan materi
“Menjaga Alam melalui Pariwisata Berkelanjutan”. Merujuk pada kerangka
statistik pengukuran keberlanjutan pariwisata yang disusun UNWTO (2024), ia menjelaskan
bahwa keberlanjutan tidak cukup dipahami sebagai keseimbangan setara antara
aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam model bersarang (nested view),
ekonomi berada di dalam masyarakat, dan masyarakat berada di dalam lingkungan,
sehingga lingkungan menjadi batas ekologis bagi seluruh aktivitas manusia.
Implikasinya, pertumbuhan pariwisata tidak boleh melampaui daya dukung
destinasi. Ia juga memetakan sejumlah persoalan yang kerap muncul, seperti
tarik-menarik antara konservasi dan komersialisasi, jumlah kunjungan yang
melebihi daya dukung, kerusakan fisik kawasan, serta kesenjangan kesadaran
keberlanjutan di antara para pemangku kepentingan. Melalui contoh pengembangan
wisata kebugaran hutan (forest wellness tourism), ia menunjukkan bahwa
ekosistem hutan yang terjaga dapat sekaligus menopang kesejahteraan wisatawan,
masyarakat lokal, dan pembangunan wilayah, selama pengembangannya berjalan
beriringan dengan upaya konservasi.
Kehadiran ahli geohidrologi dalam
forum tersebut turut memperkaya pembahasan mengenai keterkaitan antara
lingkungan, air, dan keberlangsungan kehidupan. Sementara perspektif restorasi
ekologi memberikan perhatian pada upaya pemulihan ekosistem yang mengalami
kerusakan. Di sisi lain, pengalaman lembaga yang bergerak pada isu lingkungan
hidup dan penanggulangan bencana memperlihatkan pentingnya keterlibatan
masyarakat dalam menghadapi persoalan ekologis.
Forum ini juga menjadi ruang
untuk mempertemukan diskursus akademik dengan pengalaman praktis. Persoalan
lingkungan tidak hanya menjadi objek penelitian di perguruan tinggi, tetapi
juga bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, dialog
antara akademisi, praktisi, organisasi masyarakat, dan pemerhati lingkungan
dapat memperluas pemahaman mengenai tantangan ekologis sekaligus kemungkinan
solusi yang dapat dikembangkan.
Bagi lingkungan akademik FUPI UIN
Sunan Kalijaga, kegiatan Expert Talk tersebut dapat menjadi bagian dari
penguatan tradisi intelektual yang menghubungkan kajian keislaman, filsafat,
kemanusiaan, dan persoalan lingkungan. Isu ekologi memiliki keterkaitan dengan
pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai manusia, kehidupan, tanggung jawab
moral, serta cara manusia menempatkan dirinya dalam jaringan kehidupan yang
lebih luas.
Melalui tema “Filsafat Pohon dan
Kesadaran Ekoteologis”, kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa isu lingkungan
dapat dikaji melalui pendekatan multidisipliner. Pohon dan alam tidak
semata-mata dilihat sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomis, tetapi
juga sebagai bagian dari kehidupan yang mengandung dimensi filosofis, sosial,
ekologis, dan spiritual.
Penyelenggaraan Expert Talk ini
diharapkan memperkuat ruang dialog akademik di FUPI UIN Sunan Kalijaga serta
mendorong tumbuhnya kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi. Melalui
perjumpaan berbagai perspektif, isu lingkungan dapat ditempatkan sebagai bagian
penting dari refleksi keilmuan dan tanggung jawab bersama dalam membangun
kehidupan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, Expert Talk
“Filsafat Pohon dan Kesadaran Ekoteologis” menjadi ruang perjumpaan antara
filsafat, keagamaan, ilmu pengetahuan, dan praktik ekologis. Pembahasan
mengenai pohon dan lingkungan diarahkan bukan hanya untuk memahami alam, tetapi
juga untuk merefleksikan kembali posisi manusia serta tanggung jawabnya dalam
menjaga keberlangsungan kehidupan.