Yogyakarta – Fakultas Ushuluddin
dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan
Workshop Peningkatan Mutu dan Rekognisi Internasional Dosen FUPI pada Rabu, 23
September 2026. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk Visiting Lecture bertema
"Indonesia and Algeria: Experiences in Islamic Studies and Humanitarian
Discourse" dan menghadirkan tiga guru besar dari Aljazair. Acara
dimulai pukul 08.30 WIB di Ruang Rapat FUPI, Lantai 2 Gedung Prof. Dr. H.
Simuh, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan diikuti oleh dosen, peneliti, serta
mahasiswa di lingkungan fakultas.
Ketiga narasumber tersebut adalah
Prof. Dr. Mohamed Djaradi dari Department of Sharia, University of Adrar; Prof.
Dr. Ahmed El-Hamdi dari Department of History and Archaeology, University of
Adrar; dan Prof. Dr. Mahi Gandouz dari Department of Islamic Sciences,
University of Tlemcen. Kehadiran mereka merupakan bagian dari program Visiting
Professor yang digelar FUPI pada 21–23 September 2026, berdasarkan undangan
resmi yang ditandatangani Dekan FUPI, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag.,
M.Hum. Selama kunjungan, para profesor tamu dijadwalkan terlibat dalam kuliah
umum, diskusi ilmiah bersama dosen dan peneliti, interaksi akademik dengan
mahasiswa, serta penjajakan kolaborasi riset dan publikasi.
Sesi Visiting Lecture dibuka
dengan keynote speech oleh Dekan FUPI, Prof. Dr. Robby Habiba Abror.
Dalam paparannya, dekan menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya
fakultas memperkuat kualitas akademik dosen sekaligus memperluas jejaring
keilmuan di tingkat global. Workshop ini diarahkan agar dosen FUPI tidak hanya
menjadi pendengar, tetapi juga mitra dialog yang aktif dalam percakapan
akademik lintas negara. Selanjutnya, jalannya diskusi dipandu oleh dua
moderator, yaitu Dr. Ibrahim Djarfour dan Dr. Uki Sukiman.
Tema yang diangkat berangkat dari
kenyataan bahwa Indonesia dan Aljazair sama-sama memiliki tradisi intelektual
Islam yang kaya dan berakar panjang. Keduanya tumbuh dalam konteks sejarah,
budaya, dan sosial-politik yang berbeda. Indonesia berkembang dengan corak
Islam Nusantara yang lekat dengan jaringan pesantren dan keragaman budaya
lokal, sedangkan Aljazair memiliki warisan keilmuan Maghribi yang terbentuk
melalui sejarah panjang di kawasan Afrika Utara serta pengalaman perjuangan
melawan kolonialisme. Perbedaan latar ini justru membuka ruang perbandingan
yang produktif bagi kajian keislaman kedua negara.
Diskusi dalam forum ini mencakup
sejumlah pokok bahasan. Di antaranya perkembangan studi Islam dan tradisi
intelektual Islam di Indonesia dan Aljazair, dinamika kontemporer pemikiran
Islam dan kesarjanaan keagamaan, serta peran Islam dalam membangun wacana
kemanusiaan di tengah masyarakat modern. Forum juga menyinggung kontribusi
ulama dan lembaga keislaman bagi perdamaian, keadilan, solidaritas, dan
martabat manusia, termasuk respons keagamaan terhadap berbagai tantangan sosial
dan kemanusiaan dewasa ini.
Latar keilmuan ketiga narasumber
memberi warna tersendiri pada diskusi. Prof. Mohamed Djaradi membawa perspektif
kajian syariah, Prof. Ahmed El-Hamdi mengulas dari sudut pandang sejarah dan
arkeologi, sementara Prof. Mahi Gandouz menghadirkan wawasan dari bidang
ilmu-ilmu keislaman. Perpaduan ketiga disiplin ini memungkinkan tema besar
kegiatan dibaca secara interdisipliner, mulai dari aspek normatif, historis,
hingga perkembangan kelembagaan studi Islam di perguruan tinggi Aljazair.
Peserta menyambut sesi ini dengan
antusias. Ruang tanya jawab dimanfaatkan dosen dan mahasiswa untuk menggali
lebih jauh pengalaman akademik di Aljazair, baik terkait pengembangan kurikulum
studi Islam, tradisi penelitian, maupun peluang kerja sama antarlembaga.
Suasana dialog berlangsung hangat dan cair, mencerminkan kedekatan dua bangsa
yang sama-sama mayoritas Muslim dan memiliki sejarah hubungan diplomatik yang
panjang.
Bagi FUPI, penyelenggaraan
workshop ini memiliki arti strategis. Rekognisi internasional dosen tidak hanya
ditentukan oleh publikasi di jurnal bereputasi, tetapi juga oleh keterlibatan
aktif dalam jejaring akademik global. Melalui interaksi langsung dengan guru
besar dari luar negeri, dosen berkesempatan memperluas cakrawala keilmuan,
memperkaya perspektif pengajaran, serta membangun relasi yang dapat berlanjut
pada riset bersama, penulisan artikel kolaboratif, pertukaran dosen dan
mahasiswa, hingga penyelenggaraan kegiatan ilmiah internasional di masa
mendatang.
Kegiatan ini juga sejalan dengan
komitmen UIN Sunan Kalijaga sebagai perguruan tinggi berakreditasi Unggul untuk
terus meningkatkan mutu tridharma perguruan tinggi dan memperkuat daya saing di
tingkat internasional. Kerja sama dengan University of Adrar dan University of
Tlemcen diharapkan menjadi pintu masuk bagi kolaborasi yang lebih luas antara
perguruan tinggi Indonesia dan Aljazair, khususnya dalam bidang studi Islam,
humaniora, ilmu sosial, dan kajian kemanusiaan.
Rangkaian Workshop Peningkatan
Mutu dan Rekognisi Internasional Dosen FUPI ditutup dengan sesi foto bersama
dan penyerahan cendera mata kepada para narasumber. Ke depan, FUPI berencana
menindaklanjuti pertemuan ini melalui langkah-langkah konkret yang dapat
memperkuat hubungan intelektual dan kelembagaan kedua negara. Dengan demikian,
kunjungan tiga profesor Aljazair ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial,
tetapi menjadi fondasi bagi kemitraan akademik yang berkelanjutan.