Yogyakarta — Fakultas Ushuluddin
dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan
Teknik Konseling Psikososial Mahasiswa bagi Dosen Pembimbing Akademik.
Kegiatan ini diikuti oleh para Dosen Pembimbing Akademik (DPA) di lingkungan
FUPI sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas dosen dalam mendampingi
mahasiswa, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam menghadapi
berbagai persoalan psikososial selama menjalani proses pendidikan di perguruan
tinggi.
Dalam pelaksanaannya, FUPI
menggandeng tim Metamorfosa sebagai mitra pelatihan. Tim tersebut merupakan tim
ahli konseling yang dinaungi oleh Dr. Pihasniwati, S.Psi., M.A., Psikolog.
Kehadiran para ahli konseling tersebut memberikan perspektif dan pengalaman
praktis mengenai bagaimana seorang Dosen Pembimbing Akademik dapat membangun
komunikasi yang lebih efektif, mengenali kondisi mahasiswa, serta memberikan
respons pendampingan yang tepat sesuai dengan batas kewenangan seorang DPA.
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga
hari dengan perpaduan kegiatan daring dan luring. Berdasarkan rancangan
kegiatan, hari pertama diarahkan pada orientasi dan penguatan konsep kesehatan
mental, sedangkan hari kedua difokuskan pada pendalaman teknik konseling dan
etika. Materi yang diberikan antara lain mencakup pemahaman mahasiswa secara
utuh, kemampuan menerima sebelum merespons, membaca tanda-tanda yang muncul
pada mahasiswa, batas peran DPA, serta praktik simulasi terbimbing.
Namun, hari ketiga menjadi salah satu bagian paling menarik dalam rangkaian
pelatihan karena peserta mengikuti kegiatan outdoor melalui berbagai permainan
berbasis kelompok (group activities). Kegiatan ini tidak sekadar
dirancang sebagai hiburan atau penyegar setelah mengikuti sesi materi, tetapi
menjadi ruang praktik untuk mengembangkan sejumlah kemampuan yang relevan
dengan tugas Dosen Pembimbing Akademik.
Kegiatan hari ketiga diawali
dengan registrasi dan persiapan lapangan, kemudian dilanjutkan dengan conditioning
dan grouping. Setelah peserta terbagi dalam beberapa kelompok, rangkaian
outbound activities berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan
disertai dengan sesi debriefing.
Berbagai permainan dalam kegiatan
outdoor dilakukan dengan sistem kelompok. Melalui pola tersebut, peserta tidak
hanya dituntut untuk menyelesaikan permainan, tetapi juga belajar berinteraksi,
berkomunikasi, membangun kepercayaan, berbagi peran, mengambil keputusan, serta
bekerja sama dengan anggota kelompok. Setiap permainan menjadi pengalaman
langsung yang memungkinkan peserta merasakan bagaimana dinamika kelompok
terbentuk dan bagaimana seseorang dapat berkontribusi secara efektif di tengah
perbedaan karakter, cara berpikir, maupun gaya komunikasi.
Suasana kegiatan tampak
berlangsung penuh antusiasme. Para dosen yang sehari-hari menjalankan peran
akademik dan pendampingan mahasiswa diajak keluar dari suasana formal ruang
perkuliahan dan masuk ke dalam pengalaman belajar yang lebih interaktif. Aktivitas
fisik, permainan kelompok, komunikasi, dan refleksi dipadukan sehingga proses
pembelajaran berlangsung secara lebih cair dan partisipatif.
Yang menjadi kekuatan utama
kegiatan outdoor tersebut adalah adanya debriefing setelah permainan.
Pengalaman yang diperoleh peserta tidak berhenti pada aktivitas permainan,
tetapi kemudian dibicarakan dan direfleksikan bersama. Dari proses tersebut,
peserta diajak melihat kembali bagaimana komunikasi berlangsung, bagaimana
kepemimpinan muncul, bagaimana konflik atau perbedaan dapat dikelola, serta
bagaimana kerja sama dapat dibangun untuk mencapai tujuan bersama.
Bagi Dosen Pembimbing Akademik,
pengalaman tersebut memiliki relevansi yang kuat. Pendampingan mahasiswa pada
dasarnya tidak selalu dapat dilakukan hanya dengan memberikan nasihat akademik.
DPA perlu memiliki kemampuan mendengarkan, membaca situasi, membangun hubungan
yang sehat, memahami kondisi mahasiswa, serta mengetahui kapan harus memberikan
pendampingan dan kapan perlu merujuk mahasiswa kepada tenaga profesional.
Melalui pelatihan ini, FUPI UIN
Sunan Kalijaga berharap para Dosen Pembimbing Akademik semakin siap menjalankan
perannya sebagai pendamping mahasiswa. Kompetensi yang diperoleh diharapkan
dapat mendukung terciptanya pola pendampingan yang lebih humanis, komunikatif,
responsif, dan tetap memperhatikan batas-batas profesional dalam konseling
psikososial mahasiswa.