Dr. Robby Habiba Abror Menjadi Pembicara di Kajian Online UAD

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kembali menjadi narasumber kajian daring. Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum yang menjabat sebagai wakil dekan bidang dua dan Ketua MPI (Majelis Pustaka dan Informasi) PWM DIY 2015-2020 didaulat untuk mengisi kajian online bertajuk Etika Medsos di Jagad Virtual. Acara ini dilaksanakan hari Jumat, 7 Mei 2021, diinisiasi oleh Masjid Darunnajah Universitas Ahmad Dahlan sebagai bentuk pengayaan khazanah keilmuan selama masa pandemi Covid-19.
Mengusung tema beretika dalam media sosial, Dr. Robby mengiyakan pentingnya hal ini mengingat kita lahir bersama gawai. Jika dahulu, televisilah yang dinamakan kotak ajaib karena di dalamnya berisi segala macam informasi, namun sekarang kotak ajaib itu berada dalam genggaman dengan informasi yang lebih pesat lagi. Sejatinya, kita hidup di dua alam: alam nyata atau alam keseharian, dan alam maya atau jagad virtual atau cyber space. Alam yang disebutkan kedua ini sangat penuh dan padat oleh segala macam informasi.
Melihat fenomena itu, Dr. Robby menegaskan tiga prinsip bermedia sosial agar tidak keluar koridor keislaman. Prinsip pertama, pentingnya al qiyaam al asasiyah atau nilai dasar Islam terkait informasi. Bersumber pada prinsip ini, seseorang yang terjun ke dunia maya harus tahu posisi kita sebagai muslim dan memiliki tauhid yang benar agar tata kembali diri kita dari akhlak yang buruk ke akhlak karimah. Kedua, al ushul al kulliyyah atau asas-asas universal dengan cara memberitakan sesuatu dengan selektif. Kita sering mendapatkan informasi dengan judul yang provokatif, kemudian dibagikan dengan bebas tanpa membaca isi beritanya. Hal ini tentu sangat rawan menimbulkan konflik. Terakhir, al ahkam al far’iyah atau ketentuan hukum konkrit, yakni pedoman praktis dalam menyebarkan informasi: ta’lim atau pengajaran, tanwir atau pencerahan, taudhih atau klarifikasi, tajdid atau pembaharuan.
Ada kesan jarak antara usia bahkan ideologi, tidak lagi berbatas. Mahasiswa seringkali kurang pas dalam bersikap di WhatsApp karena ketiadaan jarak itu, seolah-olah sudah berteman akrab dengan dosen, meskipun juga tidak salah namun sikap tadzim kepada yang lebih tua tetap saja dibutuhkan. Selanjutnya, beliau menyampaikan satu kata mutiara yang sarat makna, ashohibu saahibun yang bisa berarti sahabat itu punya kecenderungan memengaruhi. Artinya, media sosial hendaknya dijadikan alat untuk saling memengaruhi dalam kebaikan.
Acara virtual ini berlangsung sangat interaktif, terbukti dengan sesi tanya-jawab yang ramai. Di ujung kajian, Dr. Robby berharap agar kita selalu diarahkan dan dibimbing oleh Allah agar tidak terpeleset dalam bersosial media. *HSR