Dilihat 0 Kali

05_318_WhatsApp Image 2026-10-25 at 18.22.28.jpeg

Kamis, 15 Oktober 2026 15:29:00 WIB

The Global Mosaic: FUPI UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Diskusi Komunikasi Strategis Lintas Budaya

Yogyakarta — Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyelenggarakan kegiatan bertajuk The Global Mosaic: Strategic Communication Across Cultural Boundaries pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan ini mengangkat pentingnya komunikasi strategis dalam menghadapi perbedaan budaya di tengah dinamika masyarakat global yang semakin terhubung.

Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Smart Room, lantai 2 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum. sebagai Opening Speaker, Matthijs van den Broek, Ph.D. sebagai Speaker 1, dan Prof. Syafa’atun Almirzanah, Ph.D., D.Min. sebagai Speaker 2.

Melalui tema The Global Mosaic, kegiatan ini menempatkan komunikasi strategis lintas budaya sebagai isu penting dalam membangun pemahaman, kerja sama, dan hubungan yang konstruktif di tengah keberagaman perspektif dan latar belakang sosial. Perbedaan budaya tidak hanya menjadi tantangan dalam komunikasi, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas wawasan, mengembangkan kolaborasi, serta membangun relasi yang lebih inklusif dalam lingkungan akademik maupun profesional.

Sebagai pembicara pembuka, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengawali rangkaian kegiatan. Kehadiran pimpinan fakultas dalam kegiatan ini menegaskan relevansi pembahasan komunikasi lintas budaya bagi pengembangan lingkungan akademik yang terbuka terhadap dialog dan pertukaran pengetahuan.

Narasumber utama, Matthijs van den Broek, Ph.D., merupakan Managing Director Further East Consult, sebuah konsultan yang berbasis di Belanda. Ia memiliki pengalaman internasional dalam bidang manajemen bisnis, pelatihan lintas budaya, serta kajian perkembangan geopolitik, geoekonomi, dan sosial-ekonomi Asia. Pengalamannya mencakup kegiatan pengajaran, pelatihan, konsultasi, dan penyampaian keynote speech bagi berbagai institusi pendidikan, lembaga pemerintah, serta sektor korporasi di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Sementara itu, Prof. Syafa’atun Almirzanah, Ph.D., D.Min., dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, turut hadir sebagai pembicara kedua. Keterlibatan akademisi dari lingkungan fakultas memperkaya ruang perjumpaan antara pengalaman praktis dan perspektif akademik dalam membahas komunikasi lintas budaya.

Dalam kegiatan The Global Mosaic: Strategic Communication Across Cultural Boundaries, pembahasan diarahkan pada pentingnya komunikasi strategis dalam menjembatani perbedaan budaya di tengah interaksi global. Materi ini relevan dengan dinamika masyarakat multikultural, ketika perbedaan nilai, norma sosial, bahasa, dan cara pandang dapat memengaruhi proses komunikasi serta membentuk pemahaman antarkelompok.

Matthijs van den Broek, Ph.D., dengan pengalaman internasional di bidang manajemen bisnis dan pelatihan lintas budaya, menghadirkan perspektif yang berkaitan dengan budaya sosial dan bisnis, pengelolaan interaksi antarbudaya, serta tantangan komunikasi dalam lingkungan internasional. Perspektif tersebut relevan untuk memahami bagaimana kepekaan terhadap perbedaan budaya dapat mendukung komunikasi yang efektif dan membangun kerja sama lintas negara.

Sementara itu, perspektif akademik dari Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum. dan Prof. Syafa’atun Almirzanah, Ph.D., D.Min., dapat ditempatkan dalam konteks pengembangan dialog dan pertukaran gagasan di lingkungan perguruan tinggi. Dalam konteks Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, komunikasi lintas budaya juga memiliki relevansi dengan upaya membangun keterbukaan intelektual, mempertemukan perspektif yang beragam, dan memperkuat dialog di tengah perbedaan latar belakang sosial maupun pandangan keagamaan.

Secara keseluruhan, tema The Global Mosaic menekankan relevansi kemampuan memahami perbedaan budaya sebagai modal penting dalam membangun komunikasi yang konstruktif. Pendekatan ini membuka ruang bagi pengembangan wawasan global sekaligus memperkuat kolaborasi akademik dan profesional di tengah masyarakat yang semakin saling terhubung.