Yogyakarta — Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Kalijaga Yogyakarta, menyelenggarakan kegiatan bertajuk The Global Mosaic:
Strategic Communication Across Cultural Boundaries pada Kamis, 15 Oktober
2026. Kegiatan ini mengangkat pentingnya komunikasi strategis dalam menghadapi
perbedaan budaya di tengah dinamika masyarakat global yang semakin terhubung.
Acara yang berlangsung mulai
pukul 09.00 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Smart Room, lantai 2
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Kegiatan ini menghadirkan tiga
narasumber, yakni Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum. sebagai Opening
Speaker, Matthijs van den Broek, Ph.D. sebagai Speaker 1, dan Prof.
Syafa’atun Almirzanah, Ph.D., D.Min. sebagai Speaker 2.
Melalui tema The Global Mosaic,
kegiatan ini menempatkan komunikasi strategis lintas budaya sebagai isu penting
dalam membangun pemahaman, kerja sama, dan hubungan yang konstruktif di tengah
keberagaman perspektif dan latar belakang sosial. Perbedaan budaya tidak hanya
menjadi tantangan dalam komunikasi, tetapi juga membuka peluang untuk
memperluas wawasan, mengembangkan kolaborasi, serta membangun relasi yang lebih
inklusif dalam lingkungan akademik maupun profesional.
Sebagai pembicara pembuka, Prof.
Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran
Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengawali rangkaian kegiatan. Kehadiran
pimpinan fakultas dalam kegiatan ini menegaskan relevansi pembahasan komunikasi
lintas budaya bagi pengembangan lingkungan akademik yang terbuka terhadap
dialog dan pertukaran pengetahuan.
Narasumber utama, Matthijs van
den Broek, Ph.D., merupakan Managing Director Further East Consult, sebuah
konsultan yang berbasis di Belanda. Ia memiliki pengalaman internasional dalam
bidang manajemen bisnis, pelatihan lintas budaya, serta kajian perkembangan
geopolitik, geoekonomi, dan sosial-ekonomi Asia. Pengalamannya mencakup
kegiatan pengajaran, pelatihan, konsultasi, dan penyampaian keynote speech
bagi berbagai institusi pendidikan, lembaga pemerintah, serta sektor korporasi
di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Sementara itu, Prof. Syafa’atun
Almirzanah, Ph.D., D.Min., dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, turut hadir sebagai pembicara kedua. Keterlibatan
akademisi dari lingkungan fakultas memperkaya ruang perjumpaan antara
pengalaman praktis dan perspektif akademik dalam membahas komunikasi lintas
budaya.
Dalam kegiatan The Global
Mosaic: Strategic Communication Across Cultural Boundaries, pembahasan
diarahkan pada pentingnya komunikasi strategis dalam menjembatani perbedaan
budaya di tengah interaksi global. Materi ini relevan dengan dinamika
masyarakat multikultural, ketika perbedaan nilai, norma sosial, bahasa, dan
cara pandang dapat memengaruhi proses komunikasi serta membentuk pemahaman
antarkelompok.
Matthijs van den Broek, Ph.D.,
dengan pengalaman internasional di bidang manajemen bisnis dan pelatihan lintas
budaya, menghadirkan perspektif yang berkaitan dengan budaya sosial dan bisnis,
pengelolaan interaksi antarbudaya, serta tantangan komunikasi dalam lingkungan
internasional. Perspektif tersebut relevan untuk memahami bagaimana kepekaan
terhadap perbedaan budaya dapat mendukung komunikasi yang efektif dan membangun
kerja sama lintas negara.
Sementara itu, perspektif
akademik dari Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum. dan Prof. Syafa’atun
Almirzanah, Ph.D., D.Min., dapat ditempatkan dalam konteks pengembangan dialog
dan pertukaran gagasan di lingkungan perguruan tinggi. Dalam konteks Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam, komunikasi lintas budaya juga memiliki
relevansi dengan upaya membangun keterbukaan intelektual, mempertemukan
perspektif yang beragam, dan memperkuat dialog di tengah perbedaan latar
belakang sosial maupun pandangan keagamaan.
Secara keseluruhan, tema The Global Mosaic menekankan relevansi kemampuan memahami perbedaan budaya sebagai modal penting dalam membangun komunikasi yang konstruktif. Pendekatan ini membuka ruang bagi pengembangan wawasan global sekaligus memperkuat kolaborasi akademik dan profesional di tengah masyarakat yang semakin saling terhubung.