Yogyakarta - Fakutlas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarat (FUPI) sukses menyelenggarakan acara guest lecture
dengan menghadirkan Prof. Dr. Badlihisham bin Mohd Nasri dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Acara ini menjadi bagian dari upaya penguatan wawasan akademik dan
jejaring internasional di lingkungan Fakultas. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Lantai
2 FUPI pada Jumat, (24 April 2026).
Dekan FUPI, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum. dalam
sambutannya menyampaikan pentingnya forum akademik untuk memperluas pemahaman
mengenai relasi Islam dan negara, khususnya dalam konteks Malaysia dan
Indonesia. Ia juga menyinggung isu sekularisasi sebagai fenomena yang terus
berkembang dan perlu dikaji secara kritis dalam perspektif keislaman. Selain
itu, menurutnya kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman komprehensif
mengenai dinamika sekularisasi sekaligus mendorong refleksi atas pertanyaan
apakah Islam perlu bernegosiasi dengan negara.
Mengusung tema “Negotiating Islam and The State: Political
Thought in Malaysia and Indonesia”, narasumber melalui pemaparan menegaskan
bahwa relasi antara Islam dan negara tidak dapat dipahami secara dikotomis
antara sekularisme dan pragmatisme semata, melainkan perlu direkonsiliasikan
secara bijak dalam bingkai sejarah dan kebangsaan. Dalam semangat pemikiran
Mohammad Natsir dan Ahmad Syafii Maarif, Islam dipandang sebagai kekuatan etis
yang membimbing kehidupan publik, bukan sekadar instrumen legitimasi kekuasaan.
Kegiatan ini pun ditutup dengan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah berkontribusi dalam terselenggaranya acara tersebut.
Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga yang memiliki ketertarikan terhadap isu-isu politik keislaman. Guna menjaga kualitas diskusi, jumlah peserta dibatasi melalui proses registrasi. Melalui kegiatan ini, FUPI menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog akademik yang kritis dan reflektif terkait relasi agama dan negara.