YOGYAKARTA – Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
menyelenggarakan Indonesia–Austria Forum on Islamic Sufism: Bridging East and
West pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di
Hotel 101 Style Yogyakarta. Forum internasional ini menjadi ruang perjumpaan
akademik dan dialog lintas budaya untuk memperluas pemahaman mengenai tasawuf
Islam serta relevansinya dalam membangun hubungan intelektual dan spiritual
antara masyarakat Timur dan Barat.
Kegiatan ini menghadirkan Dekan
FUPI, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, M.Hum., sebagai pembicara utama atau
keynote speaker. Forum juga menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Munawar
Ahmad, M.Si., Wakil Dekan II FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Dr.
Rosina-Fawzia Al-Rawi Al-Rifai dan Sabeena Shahid dari Austria. Kehadiran para
akademisi dan praktisi dari Indonesia dan Austria diharapkan memperkaya
perspektif mengenai tasawuf sebagai tradisi intelektual, spiritual, dan etis
yang melampaui batas geografis maupun kebudayaan.
Mengusung tema Bridging East and
West, forum ini menempatkan tasawuf sebagai salah satu pintu masuk untuk
memahami hubungan antara tradisi keislaman dan dinamika spiritualitas global.
Tasawuf tidak hanya dipahami sebagai praktik penyucian jiwa dan pendekatan
batin dalam beragama, tetapi juga sebagai khazanah pemikiran yang menawarkan
refleksi tentang kemanusiaan, cinta, kedamaian, serta hubungan manusia dengan
Tuhan dan sesama.
Dalam konteks masyarakat
kontemporer, pemikiran tasawuf memiliki relevansi untuk merespons berbagai
tantangan kehidupan modern, mulai dari menguatnya individualisme, ketegangan
sosial, hingga kebutuhan akan makna dan kedalaman spiritual. Nilai-nilai seperti
pengendalian diri, kerendahan hati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap
martabat manusia dapat menjadi landasan untuk membangun kehidupan bersama yang
lebih inklusif dan harmonis.
Pertemuan akademik antara
Indonesia dan Austria juga membuka peluang pertukaran pengetahuan mengenai
bagaimana tradisi tasawuf dipahami, dipraktikkan, dan dikembangkan dalam
lingkungan sosial serta kebudayaan yang berbeda. Dialog semacam ini penting
untuk menghindari pemahaman yang sempit terhadap Islam sekaligus memperlihatkan
keragaman ekspresi spiritualitas dalam tradisi Islam.
Bagi FUPI UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, penyelenggaraan forum internasional ini sejalan dengan peran
perguruan tinggi dalam mengembangkan kajian keislaman yang kritis, terbuka, dan
dialogis. Pertemuan lintas negara tidak hanya memperkuat jejaring akademik,
tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan penelitian, kolaborasi ilmiah,
serta pertukaran pengalaman mengenai pemikiran Islam dan praktik spiritualitas.
Melalui Indonesia–Austria Forum
on Islamic Sufism, FUPI berharap dialog antara kedua negara dapat memberikan
kontribusi bagi pengembangan studi tasawuf di tingkat internasional. Forum ini
sekaligus menegaskan pentingnya menjadikan tradisi spiritual Islam sebagai
sumber refleksi etis dalam menghadapi persoalan kemanusiaan masa kini.
Dengan mempertemukan perspektif
akademik dan pengalaman spiritual dari Indonesia dan Austria, kegiatan ini
diharapkan menjadi langkah awal bagi kerja sama yang berkelanjutan. Tasawuf,
dalam kerangka tersebut, tidak hanya menjadi warisan intelektual masa lalu,
tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun dialog, memperkuat pemahaman
lintas budaya, dan merawat hubungan yang lebih manusiawi antara Timur dan
Barat.