Dilihat 0 Kali

05_406_poster_edit.png

Jumat, 25 September 2026 17:21:00 WIB

FUPI Gelar Expert Talk: Bahas Filsafat Pohon dan Kesadaran Ekoteologis

Yogyakarta, 25 September 2026 — Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Expert Talk bertajuk “Filsafat Pohon dan Kesadaran Ekoteologis”. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi, praktisi lingkungan, dan pemerhati ekologi untuk memperluas perspektif mengenai hubungan manusia, alam, filsafat, serta dimensi spiritual dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 09.00 WIB bertempat di Ruang Rapat FUPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Agenda ini menghadirkan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prof. Dr. Robby Habiba Abror, M.Hum., sebagai Keynote Speaker. Sementara itu, lima narasumber dari latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam turut memberikan perspektif dalam pembahasan mengenai filsafat pohon dan kesadaran ekoteologis.

Para narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut adalah Yulia Arisnani Widyangsingh, M.B.A., Ph.D., Dosen FEB Universitas Gadjah Mada; Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K., M.Sc., ahli geohidrologi dari UPN Veteran Yogyakarta; Tomon Haryo Wirosobo, S.Sos., M.Ag., Pemimpin Restorator Ekologi; Rahmawati Husein, MCP, Ph.D., Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Aisyiyah; serta Drg. Hj. Hanum Salsabiela Rais, M.B.A., mahasiswa S3 KBM UGM sekaligus penulis 99 Cahaya di Langit Eropa.

Keberagaman latar belakang para pembicara memberikan ruang bagi pembahasan ekologi dari berbagai sudut pandang. Perspektif filsafat, geohidrologi, ekonomi dan pembangunan, restorasi ekologi, gerakan masyarakat, hingga pengalaman intelektual dan literasi dapat dipertemukan dalam satu forum. Hal tersebut sejalan dengan karakter keilmuan FUPI yang membuka ruang dialog lintas disiplin dalam merespons persoalan-persoalan aktual di tengah masyarakat.

Tema filsafat pohon menjadi salah satu titik penting dalam kegiatan ini. Pohon tidak hanya dapat dipahami sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat menjadi objek refleksi filosofis mengenai kehidupan, keberlanjutan, keterhubungan, dan relasi manusia dengan lingkungan. Dalam konteks kehidupan modern, keberadaan pohon berkaitan erat dengan berbagai persoalan seperti perubahan iklim, ketersediaan air, kualitas udara, keberlangsungan keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan ruang hidup manusia.

Sementara itu, gagasan mengenai kesadaran ekoteologis membuka pembahasan mengenai hubungan antara kepedulian terhadap lingkungan dan kesadaran keagamaan. Ekoteologi secara umum memberikan perhatian terhadap relasi manusia dengan alam dalam perspektif keagamaan dan spiritual. Dalam konteks masyarakat yang memiliki kehidupan religius yang kuat, kesadaran ekologis dapat ditempatkan tidak hanya sebagai persoalan teknis dan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia.

Pembahasan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan. Kerusakan ekosistem, perubahan tata guna lahan, pencemaran, berkurangnya kawasan hijau, serta berbagai persoalan terkait sumber daya alam membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada aspek kebijakan dan teknologi. Perubahan cara pandang manusia terhadap alam juga menjadi bagian penting dalam membangun perilaku yang lebih berkelanjutan.

Sebagaimana yang diuraikan Rahmawati Husein bahwa pohon tidak semestinya dipandang sekadar sebagai kayu, komoditas, bahan bakar, atau lahan yang dapat dikonversi, tetapi sebagai makhluk hidup dan bagian dari jaringan kehidupan yang memungkinkan kehidupan lain terus berlangsung. Menurutnya, krisis ekologis bukan semata krisis sumber daya, melainkan krisis cara manusia memahami dirinya di tengah jaringan kehidupan. Karena itu, diperlukan pergeseran dari antroposentrisme menuju ekosentrisme, dari manusia yang menguasai alam menuju manusia yang mengemban amanah, sebagaimana tercermin dalam konsep khalifah pada QS. Al-Baqarah: 30. Ia juga menunjukkan bahwa pohon bukan figur pinggiran dalam Al-Qur’an, sebab pohon hadir sebagai tanda kehidupan, sumber pangan, simbol, dan bagian dari ciptaan yang tunduk kepada-Nya. Dari landasan tersebut, ia memperkenalkan gagasan ecojihad perempuan melalui penanaman pohon, yakni gerakan yang tidak berhenti pada menanam, tetapi berlanjut pada merawat, melindungi, memulihkan, hingga mendorong perubahan perilaku dan kebijakan. Pohon yang ditanam tetapi tidak dirawat, ujarnya, masih sebatas niat yang belum menjadi tanggung jawab. Gagasan ini antara lain dipraktikkan Aisyiyah melalui penanaman pohon dengan sistem pola asuh.

Dari sudut pandang ekonomi dan pembangunan, Yulia Arisnani Widyaningsih, M.B.A., Ph.D. membawakan materi “Menjaga Alam melalui Pariwisata Berkelanjutan”. Merujuk pada kerangka statistik pengukuran keberlanjutan pariwisata yang disusun UNWTO (2024), ia menjelaskan bahwa keberlanjutan tidak cukup dipahami sebagai keseimbangan setara antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam model bersarang (nested view), ekonomi berada di dalam masyarakat, dan masyarakat berada di dalam lingkungan, sehingga lingkungan menjadi batas ekologis bagi seluruh aktivitas manusia. Implikasinya, pertumbuhan pariwisata tidak boleh melampaui daya dukung destinasi. Ia juga memetakan sejumlah persoalan yang kerap muncul, seperti tarik-menarik antara konservasi dan komersialisasi, jumlah kunjungan yang melebihi daya dukung, kerusakan fisik kawasan, serta kesenjangan kesadaran keberlanjutan di antara para pemangku kepentingan. Melalui contoh pengembangan wisata kebugaran hutan (forest wellness tourism), ia menunjukkan bahwa ekosistem hutan yang terjaga dapat sekaligus menopang kesejahteraan wisatawan, masyarakat lokal, dan pembangunan wilayah, selama pengembangannya berjalan beriringan dengan upaya konservasi.

Kehadiran ahli geohidrologi dalam forum tersebut turut memperkaya pembahasan mengenai keterkaitan antara lingkungan, air, dan keberlangsungan kehidupan. Sementara perspektif restorasi ekologi memberikan perhatian pada upaya pemulihan ekosistem yang mengalami kerusakan. Di sisi lain, pengalaman lembaga yang bergerak pada isu lingkungan hidup dan penanggulangan bencana memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menghadapi persoalan ekologis.

Forum ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan diskursus akademik dengan pengalaman praktis. Persoalan lingkungan tidak hanya menjadi objek penelitian di perguruan tinggi, tetapi juga bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, dialog antara akademisi, praktisi, organisasi masyarakat, dan pemerhati lingkungan dapat memperluas pemahaman mengenai tantangan ekologis sekaligus kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan.

Bagi lingkungan akademik FUPI UIN Sunan Kalijaga, kegiatan Expert Talk tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan tradisi intelektual yang menghubungkan kajian keislaman, filsafat, kemanusiaan, dan persoalan lingkungan. Isu ekologi memiliki keterkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai manusia, kehidupan, tanggung jawab moral, serta cara manusia menempatkan dirinya dalam jaringan kehidupan yang lebih luas.

Melalui tema “Filsafat Pohon dan Kesadaran Ekoteologis”, kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dikaji melalui pendekatan multidisipliner. Pohon dan alam tidak semata-mata dilihat sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomis, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan yang mengandung dimensi filosofis, sosial, ekologis, dan spiritual.

Penyelenggaraan Expert Talk ini diharapkan memperkuat ruang dialog akademik di FUPI UIN Sunan Kalijaga serta mendorong tumbuhnya kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi. Melalui perjumpaan berbagai perspektif, isu lingkungan dapat ditempatkan sebagai bagian penting dari refleksi keilmuan dan tanggung jawab bersama dalam membangun kehidupan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, Expert Talk “Filsafat Pohon dan Kesadaran Ekoteologis” menjadi ruang perjumpaan antara filsafat, keagamaan, ilmu pengetahuan, dan praktik ekologis. Pembahasan mengenai pohon dan lingkungan diarahkan bukan hanya untuk memahami alam, tetapi juga untuk merefleksikan kembali posisi manusia serta tanggung jawabnya dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.