Dilihat 0 Kali

05_752_WhatsApp Image 2026-06-01 at 16.21.45.jpeg

Senin, 01 Juni 2026 08:01:00 WIB

Di Bawah Cahaya Borobudur, Dharma Berbicara tentang Perdamaian

Oleh: Firman Azali

Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Minggu, 31 Mei 2026, saat jarum jam menunjuk tepat pukul 15.44 WIB, di pelataran Candi Borobudur yang dipadati ribuan umat Buddha dari penjuru negeri, detik-detik Waisak 2570 BE diterima dalam khidmat meditasi bersama. Di antara kerumunan itu, duduk pula belasan mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka hadir bukan sebagai peserta ibadah, melainkan sebagai pelajar yang menyaksikan, mendengar, dan meresapi nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama.

Perayaan Waisak Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) ini mengusung tema "Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan" dengan sub tema "Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia." Bukan sekadar ritual keagamaan, perayaan ini sekaligus menjadi pernyataan keras tentang identitas bangsa yang plural.

Rangkaian puncak Waisak dimulai dengan prosesi megah dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur yang diberangkatkan pukul 10.00 WIB. Para Bhikkhu Sangha dari tiga aliran utama: Theravada, Mahayana, dan Tantrayana, berjalan dalam barisan khidmat membawa Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, serta Air Berkah dari Umbul Jumprit, Jawa Tengah. Sesampainya di Taman Kenari, prosesi dilanjutkan dengan persembahan Sarana Puja, penyalaan lilin dan dupa, doa lintas aliran, hingga meditasi detik Waisak yang dipandu YM. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera. Setelah prosesi siang, malam harinya digelar Dharmasanti Waisak di Taman Lumbini, perayaan budaya dan spiritual yang menampilkan tari-tarian dari berbagai tradisi, diakhiri dengan pelepasan Lentera Perdamaian ke langit malam Borobudur.

Malam Dharmasanti menjadi forum pernyataan kebangsaan tertinggi. Tiga tokoh negara menyampaikan sambutan yang senada: bahwa Indonesia adalah rumah bersama, dan keberagaman adalah kekuatan.

Menteri Agama Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA. membuka refleksinya dengan menekankan bahwa perdamaian sejati berakar dari dalam diri manusia itu sendiri. "Perdamaian adalah hadirnya cinta kasih dan ketentraman dalam jiwa. Kita tidak akan pernah bisa menciptakan perdamaian di masyarakat ataupun di dunia jika di dalam hati kita sendiri masih berkecamuk perang melawan ego, dendam, amarah, dan prasangka buruk kepada mereka yang berbeda. Damai terlebih dahulu di dalam diri, barulah tercipta damai di dunia," tutur Menteri Agama dalam sambutannya.

Wakil Presiden RI turut menegaskan bahwa perayaan Waisak di Borobudur bukan semata ritual keagamaan, melainkan simbol nyata kebhinekaan bangsa. "Perayaan Waisak di Borobudur malam ini tidak hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi simbol kuat bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi perdamaian, yang menghargai keberagaman, serta mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan," ujar Wakil Presiden dalam sambutannya. Ia juga mengajak umat Buddha untuk terus menjadi pelopor perdamaian dan memperkuat toleransi lintas agama. "Mari kita wariskan kepada anak dan cucu kita Indonesia yang lebih rukun, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat," imbuhnya.

Presiden RI H. Prabowo Subianto yang menyampaikan sambutan melalui video taping menekankan bahwa keberagaman Indonesia adalah modal persatuan, bukan hambatan. "Kita memiliki latar belakang suku, agama, budaya, dan tradisi serta adat yang berbeda-beda. Namun kita dipersatukan oleh cita-cita yang sama, yaitu membangun Indonesia yang damai, yang adil, makmur, dan sejahtera," kata Presiden Prabowo. Ia juga mengingatkan bahwa di tengah berbagai tantangan dunia yang penuh ketidakpastian, bangsa Indonesia harus tetap teguh menjaga persatuan dan optimisme.

Bagi rombongan mahasiswa FUPI UIN Sunan Kalijaga, kehadiran di Borobudur adalah ruang belajar yang tidak tersedia di bangku kuliah mana pun, sebuah pertemuan langsung dengan yang berbeda, dalam momen paling sakral bagi saudara sebangsa mereka.

Ananda Fairus Zakky, mahasiswa Aqidah Filsafat Islam semester 6, mengaitkan pengalamannya dengan konsep filsafat Islam klasik. "Dari agenda Waisak kemarin, saya mendapatkan beberapa pencerahan — kalau kata salah satu tokoh filsuf muslim Suhrawardi Al-Maqtul disebut sebagai hikmah isyraqiyyah atau filsafat pencerahan. Meskipun saya outsider, tak menghalangi saya untuk terus mempelajari agama Buddha dengan niat untuk menambah keilmuan dan mempertebal toleransi. Dalam beragama kita harus bersifat moderat, tidak terlalu fanatis, dan mau terbuka dengan agama-agama lain di sekitar kita," ungkap Fairus.

Senada dengan itu, Khusnatuqomara, mahasiswa Magister Studi Agama-Agama semester 1, menegaskan bahwa kehadirannya di Borobudur bukan untuk mencampuradukkan keyakinan, melainkan untuk belajar menghargai sesama. "Di tengah perbedaan keyakinan, saya dapat menyaksikan bahwa setiap agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti kedamaian, kasih sayang, penghormatan kepada sesama, dan kepedulian terhadap kehidupan. Toleransi bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi sebuah sikap yang nyata, yang hadir dalam bentuk saling menghormati, saling memahami, dan hidup berdampingan dengan damai di tengah keberagaman," tutur Khusnatuqomara. "Dari Borobudur saya belajar bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan membangun persaudaraan," tambahnya.

Saat lentera-lentera perdamaian perlahan naik ke langit Borobudur malam itu, membawa doa dari ribuan tangan yang berbeda keyakinan, tampaknya ada satu hal yang disepakati diam-diam oleh semua yang hadir: bahwa cahaya kebaikan tidak mengenal batas agama, ia milik siapa saja yang mau membiarkannya menyala. (Firman Azali)