Oleh: Firman Azali
Mahasiswa Ilmu
Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
Minggu, 31 Mei
2026, saat jarum jam menunjuk tepat pukul 15.44 WIB, di pelataran Candi
Borobudur yang dipadati ribuan umat Buddha dari penjuru negeri, detik-detik
Waisak 2570 BE diterima dalam khidmat meditasi bersama. Di antara kerumunan
itu, duduk pula belasan mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
(FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mereka hadir bukan sebagai peserta
ibadah, melainkan sebagai pelajar yang menyaksikan, mendengar, dan meresapi
nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama.
Perayaan
Waisak Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh WALUBI (Perwakilan Umat Buddha
Indonesia) ini mengusung tema "Dharma sebagai Sumber Moral dan
Kebijaksanaan" dengan sub tema "Cinta Kasih Sumber Perdamaian
Dunia." Bukan sekadar ritual keagamaan, perayaan ini sekaligus menjadi
pernyataan keras tentang identitas bangsa yang plural.
Rangkaian
puncak Waisak dimulai dengan prosesi megah dari Candi Mendut menuju Candi
Borobudur yang diberangkatkan pukul 10.00 WIB. Para Bhikkhu Sangha dari tiga
aliran utama: Theravada, Mahayana, dan Tantrayana, berjalan dalam barisan
khidmat membawa Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, serta Air Berkah dari Umbul
Jumprit, Jawa Tengah. Sesampainya di Taman Kenari, prosesi dilanjutkan dengan
persembahan Sarana Puja, penyalaan lilin dan dupa, doa lintas aliran, hingga
meditasi detik Waisak yang dipandu YM. Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera.
Setelah prosesi siang, malam harinya digelar Dharmasanti Waisak di Taman
Lumbini, perayaan budaya dan spiritual yang menampilkan tari-tarian dari
berbagai tradisi, diakhiri dengan pelepasan Lentera Perdamaian ke langit malam
Borobudur.
Malam
Dharmasanti menjadi forum pernyataan kebangsaan tertinggi. Tiga tokoh negara
menyampaikan sambutan yang senada: bahwa Indonesia adalah rumah bersama, dan
keberagaman adalah kekuatan.
Menteri Agama
Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA. membuka refleksinya dengan menekankan bahwa
perdamaian sejati berakar dari dalam diri manusia itu sendiri. "Perdamaian
adalah hadirnya cinta kasih dan ketentraman dalam jiwa. Kita tidak akan pernah
bisa menciptakan perdamaian di masyarakat ataupun di dunia jika di dalam hati
kita sendiri masih berkecamuk perang melawan ego, dendam, amarah, dan prasangka
buruk kepada mereka yang berbeda. Damai terlebih dahulu di dalam diri, barulah
tercipta damai di dunia," tutur Menteri Agama dalam sambutannya.
Wakil Presiden
RI turut menegaskan bahwa perayaan Waisak di Borobudur bukan semata ritual
keagamaan, melainkan simbol nyata kebhinekaan bangsa. "Perayaan Waisak di
Borobudur malam ini tidak hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi
simbol kuat bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi
perdamaian, yang menghargai keberagaman, serta mampu menjadikan perbedaan
sebagai kekuatan," ujar Wakil Presiden dalam sambutannya. Ia juga mengajak
umat Buddha untuk terus menjadi pelopor perdamaian dan memperkuat toleransi
lintas agama. "Mari kita wariskan kepada anak dan cucu kita Indonesia yang
lebih rukun, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat,"
imbuhnya.
Presiden RI H.
Prabowo Subianto yang menyampaikan sambutan melalui video taping menekankan
bahwa keberagaman Indonesia adalah modal persatuan, bukan hambatan. "Kita
memiliki latar belakang suku, agama, budaya, dan tradisi serta adat yang
berbeda-beda. Namun kita dipersatukan oleh cita-cita yang sama, yaitu membangun
Indonesia yang damai, yang adil, makmur, dan sejahtera," kata Presiden
Prabowo. Ia juga mengingatkan bahwa di tengah berbagai tantangan dunia yang
penuh ketidakpastian, bangsa Indonesia harus tetap teguh menjaga persatuan dan
optimisme.
Bagi rombongan
mahasiswa FUPI UIN Sunan Kalijaga, kehadiran di Borobudur adalah ruang belajar
yang tidak tersedia di bangku kuliah mana pun, sebuah pertemuan langsung dengan
yang berbeda, dalam momen paling sakral bagi saudara sebangsa mereka.
Ananda Fairus
Zakky, mahasiswa Aqidah Filsafat Islam semester 6, mengaitkan pengalamannya
dengan konsep filsafat Islam klasik. "Dari agenda Waisak kemarin, saya
mendapatkan beberapa pencerahan — kalau kata salah satu tokoh filsuf muslim
Suhrawardi Al-Maqtul disebut sebagai hikmah isyraqiyyah atau filsafat
pencerahan. Meskipun saya outsider, tak menghalangi saya untuk terus
mempelajari agama Buddha dengan niat untuk menambah keilmuan dan mempertebal
toleransi. Dalam beragama kita harus bersifat moderat, tidak terlalu fanatis,
dan mau terbuka dengan agama-agama lain di sekitar kita," ungkap Fairus.
Senada dengan
itu, Khusnatuqomara, mahasiswa Magister Studi Agama-Agama semester 1,
menegaskan bahwa kehadirannya di Borobudur bukan untuk mencampuradukkan
keyakinan, melainkan untuk belajar menghargai sesama. "Di tengah perbedaan
keyakinan, saya dapat menyaksikan bahwa setiap agama mengajarkan nilai-nilai
kebaikan seperti kedamaian, kasih sayang, penghormatan kepada sesama, dan
kepedulian terhadap kehidupan. Toleransi bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi
sebuah sikap yang nyata, yang hadir dalam bentuk saling menghormati, saling
memahami, dan hidup berdampingan dengan damai di tengah keberagaman,"
tutur Khusnatuqomara. "Dari Borobudur saya belajar bahwa perbedaan
bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling
mengenal dan membangun persaudaraan," tambahnya.
Saat
lentera-lentera perdamaian perlahan naik ke langit Borobudur malam itu, membawa
doa dari ribuan tangan yang berbeda keyakinan, tampaknya ada satu hal yang
disepakati diam-diam oleh semua yang hadir: bahwa cahaya kebaikan tidak
mengenal batas agama, ia milik siapa saja yang mau membiarkannya menyala.
(Firman Azali)