Asbabul Wurud Salah Satu Bukti Aspek Social yang diperlukan Untuk Memahami Konteks Munculnya Hadis

Rifqoh Yuliyantika/19105051007@student.uin-suka.ac.id

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Hadis secara bahasa berarti baru, sedangkan secara istilah adalah segala sesuatu yang bersandar kepada Nabi Muhammad saw baik perkataan, perbuatan, ketetapan atau sifat tertentu. Jika dilihat dari segi fungsionalnya hadis merupakan bayan terhadap ayat-ayat al-Quran. Dalam memahami suatu hadis tidak cukup jika kita hanya melihat pada teksnya saja, akan tetapi pemahaman terkait konteksnya juga sangat penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami hadis. Dan seperti yang diketahui bahwa akhir-akhir ini banyak orang mengutip hadis tanpa mengetahui sebab-sebab munculnya, padahal hal tersebutlah yang biasanya menyebabkan kekeliruan dalam memahami suatu hadis. Disinilah letak penting mengetahui asbabul wurud suatu hadis untuk digunakan sebagai alat dalam proses kita memahami suatu hadis.

Menurut al Syuthi asbabul wurud adalah “sesuatu yang membatasi arti suatu hadis, baik berkenaan dengan arti umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, dinasakhkan dan seterusnya atau suatu arti yang dimaksud oleh sebuah hadis saat kemunculannya”. Menurut Endang Soetari, asbabul wurud ialah “ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkannya serta pembahasannya dititik beratkan pada latar belakang dan sebab lahirnya hadits”. (Sulaiman, 2016 : 82). Sedangkan jika melihat pada pendapat Yahya Ismail Ahmad yaitu :

ماورد الحديث اْيام وقوعه

“Sesuatu (baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan) yang terjadi pada waktu hadis itu disampaikan oleh Nabi Muhammmad saw”. (Ali, 2015 : 86). Dari beberapa pengertian diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa asbabul wurud ialah suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang sebab-sebab munculnya hadis yang di sebabkan oleh sebuah pertanyaan maupun suatu peristiwa yang terjadi pada saat Nabi Muhammad saw menyampaikannya.

Untuk macamnya, asbabul wurud memiliki tiga macam yaitu 1.) Asbabul wurud berupa ayat al-Qur’an, maksudnya yaitu adanya ayat al-Qur’an yang menjadi sebab keluarnya sabda Nabi Muhammad saw seperti contoh dalam Q.S Al-An’am : 82 yang berbunyi :

اَلَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَلَمۡ يَلۡبِسُوۡۤا اِيۡمَانَهُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰۤٮِٕكَ لَهُمُ الۡاَمۡنُ وَهُمۡ مُّهۡتَدُوۡنَ

“Orang-orang yang beriman, dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Dalam menanggapi ayat ini, sebagian sahabat memahami kata “al-zulm dengan arti membuat aniaya atau melanggar aturan yang kemudian Nabi menjelaskan bahwa arti sebenenarnya yaitu perbuatan syirik” sebagaimana dalam Q.S Luqman : 13. (Muin, 2013 : 294-295). 2.) Asbabul wurud berupa hadis itu sendiri, biasanya ditemukan pada hadis nabi yang sulit difahami oleh beberapa sahabat seperti hadis yang dibawa oleh Anas dengan arti “Allah mempunyai malaikat-malaikat di dunia yang berbicara melalui lisan anak cucu Adam tentang apa yang baik dan buruk dalam diri seseorang”. Hadis dengan redaksi seperti itu sangatlah sulit untuk difahami sehingga Nabi bersabda dengan hadis lain untuk menjawab kemusykilan yang ada. 3.) Asbabul wurud berupa keterkaitan, misalnya kasus yang terjadi pada Syuraid bin Suwaid al-Saqafi. Ia menghadap Nabi Muhammad saw ketika fath al-Makkah dengan berkata: “Saya bernadzar akan shalat di Bait al-Maqdis”. Kemudian Nabi menjawabnya: “Shalat di sini (Masjid al-Haram) lebih utama”. Nabi bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu shalat di sini (Masjid al-Haram Makkah) maka sudah mencukupi bagimu memenuhi nazarmu”, kemudian Nabi bersabda lagi: “Shalat di masjid ini (Masjid al-Haram) itu lebih utama daripada 100.000 kali shalat di masjid-masjid selain Masjid al-Haram”. (Putri, 2020 : 11).

“Sebagian dari arti penting mengetahui asbabul wurud ialah dengan memahami hadis dengan benar dan mengetahui ketentuan syara’, sebagaimana yang di tulis al-Syuthi dalam kitabnya asbab wurud al-hadis”.(Fadli, 2014 : 387). Berikut beberapa urgensi asbabul wurud menurut al-Syuthi yaitu “untuk menentukan adanya takhshish hadis yang bersifat umum, membatasi pengertian hadis yang masih mutlak, Merinci hadis yang masih bersifat global, menentukan ada atau tidak adanya naskh-mansukh dalam suatu hadis, menjelaskan ‘illat (sebab-sebab) ditetapkannya suatu hukum, menjelaskan maksud suatu hadis yang masih musykil (sulit dipahami)”. Dari semua paparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan mengetahui asbabul wurud kita bisa memahami makna hadis dengan benar sehingga dapat mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan benar juga. Asbabul wurud juga merupakan konteks sosial bagi teks hadis. Juga perlu diingat ketika suatu hadis tidak sesuai dengan kondisi sekarang, maka pahamilah dengan betul baik dari segi teks maupun konteksnya.

Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. 2015. Asbab Wurud Al-Hadits. Jurnal Tahdis, 6(2), 86. https://scholar.google.co.id diakses pada 13 Januari 2021 pukul 10.34 WIB.

Fadli, Ali. 2014. Asbab Al-Wurud Antara Teks Dan Konteks. El-Hikam: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman, 7(2), 387. https://scholar.google.co.id diakses pada 13 Januari 2021 pukul 09.32 WIB.

Muin, Munawir. 2013. Pemahaman Komprehensif Hadis Melalui Asbab Al-Wurud. Jurnal Addin, 7(2), 294-295. https://scholar.google.co.id diakses pada 13 Januari 2021 pukul 10.42 WIB.

Putri, Widia. 2020. Asbab Al-Wurud Dan Urgensinya Dalam Pendidikan. Al-Tarbawi Al-Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam, 4(1), 11. https://scholar.google.co.id diakses pada 13 Januari 2021 pukul 09.00 WIB.

Sulaiman. 2016. Asbabul Wurud Hadits (Satu Kajian Tentang Faktor Dan Urgensi Asbabul Wurud Hadis). Jurnal Sintesa, 15(2), 82. https://scholar.google.co.id diakses pada 13 Januari 2021 pukul 10.30 WIB.

Kolom Terkait