Budaya Konsumtif Berkedok Agama

Ni'matur Rohmah (19105050037@student.uin-suka.ac.id).

Munculnya industrialisasi dalam perkembangan zaman, berpengaruh dalam segala aspek kehidupan masyarakat baik itu berdampak positif maupun negatif. Perkembangan zaman yang tumbuh dengan pesatnya mendorong masyarakat untuk dijadikan lebih konsumtif terhadap apa yang dilihatnya tanpa memandang apakah itu kebutuhan atau keinginan semata.

Budaya konsumtif dapat terjadi di berbagai kalangan. Namun riset kali ini hanya berfokus pada remaja yang pada dasarnya menjadi sasaran sebagai pasar yang memiliki potensial paling besar. Hal ini yang mempengaruhi kaum remaja lebih bersikap hedonisme daripada yang lain. Kaum milenial yang tengah terjebak dalam lingkar arus perubahan sosial yang semakin didominasi produk industri menjadi masalah besar karena dari sini mulai munculnya budaya konsumtif (consumer culture) pada kaum remaja, dan masyarakat pada umumnya.

Kehidupan kaum remaja seolah-olah diambil alih terhadap kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermoral, dengan mengajarkan budaya hedonisme, kerakusan dan kesia-siaan terhadap yang mereka beli. Alasan lain kenapa maraknya kaum remaja bersikap hedonisme karena mereka tidak realistis dan cenderung mengikuti teman atau trend yang sedang digembor-gemborkan di media sosial.

Lebih parahnya dengan budaya konsumtif yang dilakukan, didepan layar mereka berlagak dengan mengatasnamakan agama. Seolah-olah apa yang mereka perbuat sesuai dengan syariat agama. Faktanya menjalani kehidupan sesuai dengan syariat agama di zaman sekarang mulai digadang-gadangkan oleh semua pihak khususnya pada kaum milenial. Agama Islam yang dibawa dengan paket komplit cara berkehidupan dijadikan landasan oleh umatnya dalam melangkahkan kaki mereka.

Kontruksi seperti ini tidak terlepas dari media massa, bisa dilihat dari media informasi seperti televisi, radio, bahkan sosial media pun juga ikut andil dalam masalah ini. Mereka seakan-akan menghipnotis masyarakat untuk menjadi manusia konsumtif dengan berniat membeli produk yang mereka jual dengan iming-imingan sesuai dengan syariat agama. Dari sinilah muncul istilah “budaya konsumtif berkedok agama”.

Melihat berbagai fenomena di lingkungan sekitar yang tak lupa dengan mini riset yang saya lakukan, bahwa masih banyak masyarakat yang mencari nama dengan membawa Agama Islam sebagai dasarnya. Budaya hedonisme yang mengatasnamakan agama tidak seharusnya terus-terusan dilakukan. Mereka selalu menempatkan dirinya sebagai konsumen potensial, ibarat kata nafsu manusia itu seperti air, tanpa berhenti ia terus mengalir.

Sejumlah cendekiawan pun juga ikut membicarakan masalah ini, mereka berpendapat bahwa maraknya budaya konsumerisme disebabkan karena perkembangan budaya kapitalisme dalam masyarakat. Seakan-akan mereka sedang berlomba-lomba menjadi manusia konsumtif. Dengan mini riset yang saya lakukan dilingkungan sekitar ditambah dengan pendapat dari beberapa narasumber, saya menemukan beberapa pandangan baru tentang bagaimana budaya konsumtif yang mengatasnamakan agama.

Contoh misal pada masalah fashion muslim kaum milenial, mereka cenderung lebih suka mengikuti gaya hidup yang lagi trendingnya. Di era modernisasi saat ini banyak jenis busana dengan bermacam-macam pilihan dan merk, hal ini yang membuat para produsen membombardir para konsumennya. Hingga saat ini busana tidak hanya bersifat fungsional saja, lebih dari itu fungsi busana bergeser menjadi sebuah seni sebagai petunjuk identitas sosial di masyarkat. (Maziyah, 2015)

Contoh lain pada saat Bulan Ramadhan, masa-masa ini tidak hanya seputar menahan lapar semata. Jauh dari itu semua, masalah yang lebih besar adalah munculnya sikap hedonisme dalam masyarakat. Membawa istilah “ngabuburit” dengan mencari makanan untuk berbuka mereka sampai membeli dengan jumlah yang banyak dan bermacam-macam, pada realitanya mereka akan membuang banyak sisa makanan. Sedangkan dalam hadis, nabi mengajarkan untuk bersikap sederhana dalam berbuka puasa, sebagaimana sabdanya yang berbunyi :

ما ملأ ابن ادم وعاء شرّا من بطن بحسب ابن ادم لقيمات يقمن صلبه فان كان فاعلا فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Artinya : Tidak ada tempat paling buruk yang dipenuhi isinya oleh manusia, kecuali perutnya. Karena sebenarnya cukup baginya beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Kalaupun ia ingin makan, hendaknya ia atur dengan cara sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Dalam hadis tersebut sudah jelas bagaimana Rosululloh menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya masing-masing. Melarang umatnya rakus terhadap makanan serta mengikuti segala hawa nafsunya dalam mem enuhi segala kemauannya juga dilarang dalam agama karena hal ini mengarah pada isrof atau berlebih-lebihan. Dari hadis ini dapat menarik kesimpulan bahwa sebagai umat Islam seharusnya kita senantiasa bersikap sederhana dalam situasi apapun untuk mengingat bahwa apa yang kita miliki saat ini hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Khaliq.

Contoh lainnya adalah fenomena sedekah yang salah persepsi. Sedekah yang hakikatnya merupakan ajaran agama, disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka dengan semangat juangnya bersedekah dengan jumlah yang banyak yang kemudian di posting di media sosial. Jelas apa yang mereka lakukan adalah suatu hal yang mengarah pada sifat riya’ dilarang oleh agama.

Sebenarnya contoh dari budaya konsumtif berkedok agama selain yang dijelaskan di atas sangatlah banyak. Namun riset kali ini hanya terfokus pada tiga fenomena tersebut. Yang kemudian dapat diketahui beberapa penyebab kenapa seseorang cenderung bersikap konsumtif dengan mengatasnamakan agama seperti demikian :

1. Pengaruh budaya sekitar

2. Tuntutan gaya hidup

3. Terlena media sosial

4. Maraknya aplikasi yang memudahkan konsumen dalam berbelanja

Budaya konsumtif akan terus-terusan mengakar apabila dibiasakan dengan mengikuti arus globalisasi. Konsumen sekarang dalam membeli suatu barang tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan semata, tetapi terdapat hasrat untuk memilikinya. Pola hidup seperti ini lebih condong kepada gaya hidup materialistik. Kecondongan inilah yang menjadi ciri khas masyarakat sekarang.

Dari beberapa penyebab tersebut, faktanya gaya hidup seseorang yang mengacu pada sikap hedonisme tidak dapat terus-terusan disalahkan hanya dengan menggunakan satu persepsi saja. Gaya hidup dapat diartikan sebagai pola untuk membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Dengan begitu kehidupan di dunia tidak hanya soal itu-itu saja alias tidak monoton. Dengan menggaris bawahi bahwa apa yang mereka lakukan sesuai dengan kadarnya dan tidak merugikan orang lain.

Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dipahami, mengingat masa remaja adalah masa peralihan dalam mencari jati diri supaya diakui keberadaannya oleh lingkungan sekitar. Keinginan untuk dapat diterima oleh lingkungan menyebabkan para remaja berusaha untuk mengikuti segala trend yang sedang berjalan pada saat itu. Menjadi persoalan apabila yang mereka lakukan berlebihan dan tidak sesuai dengan latar belakang finansial keluarganya.

Agama Islam sangat memahami bahwa setiap manusia memiliki kadarnya masing-masing dalam memenuhi keinginannya. Islam juga menyadari bahwa setiap diri manusia terdapat nafsu hayawaniyah yang berwujud keinginan-keinginan hawani. Tetapi dalam ajaran Islam gaya hidup hedonisme juga tidak dapat dibenarkan. Kalau seandainya seseorang ingin membeli barang mewah, hendaklah ia mengamati kehidupan di lingkungan sekitar agar tidak muncul kecemburuan sosial dalam masyarakat. (Rasyid, 2019)

Kolom Terkait