Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Jumat, 4 Maret 2016 08:52:56 WIB Dilihat : 1312 kali

Prof. Dr. Suryadi, M.Ag.

(Guru Besar Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN SUnan Kalijaga Yogyakarta

Demikian halnya dalam memahami teks hadis, kita juga harus melihat konteks ketika hadis Nabi muncul, untuk seterusnya mengaitkannya dengan konteks sekarang ini (kontekstualisasi). Upaya kontekstualisasi diperlukan berbagai pendekatan, semisal pendekatan historis, pendekatan filosofis dan pendekatan ilmu-ilmu sosial (antropologi, sosiologi, politik dan psikologi). Dengan pendekatan seperti ini antara studi hadis dengan ilmu yang lain "saling menyapa" bukan ekslusif.

Ilmu Hadis atau Studi Hadis sebagai sebuah ilmu, maka harus bersifat dinamis dan tidak boleh statis, karena karakteristik sebuah ilmu itu harus terus berkembang. Demikian halnya Ilmu Hadis. Ilmu Hadis dengan dasar filosofinya mengandung dua esensi yang mendasar, di satu sisi Ilmu Hadis memiliki dasar keberangkatan normatif, dan di sisi lain harus memperhatikan pada dasar paradigma keilmuan empiris dalam rangka pengembangan dan kaitannya dengan beberapa fenomena dan realitas sosial kemanusiaan, baik secara individual maupun secara komunal. Ini artinya tugas ilmu adalah menjawab persoalan-persoalan sebatas kemampuan manusia. Maksudnya, ilmu hanya akan menjawab pertanyaan fenomena fisik-inderawi, sedang untuk menjangkau apa yang ada di belakang fenomena itu telah berada di luar jangkauannya, karena wilayah ilmu itu berada dalam wilayah fenomena empirik.

Dengan demikian, bangunan Ilmu Hadis atas dasar paradigma keilmuan, juga kefilsafatan, harus dikembalikan pada hakekatnya dengan menggunakan landasan filosofisnya sebagai dasar pijakan dan perkembangannya (ontologi, epistemologi, aksiologi), dengan memperhatikan bahasa, logika sebagai sarana yang diterapkan dalam pengkajian ilmu, disamping harus memperhatikan dasar teologis-normatif dan metafisis. Hal ini dimaksudkan agar dalam pengkajian terhadap permasalahan itu bersifat intregatif dan komprehensif, sehingga akan tercipta keterjalinan yang fungsional dan bermakna yaitu dapat menjadikan manusia sebagai subyek dan sekaligus sebagai obyek.

Sebenarnya studi hadis selama berabad-abad, sejak abad II H, para ulama yang kompeten telah menerjunkan diri untuk mengupas misteri-misteri dalam kitaran ilmu hadis, yang hasilnya kita nikmati saat ini. Namun sayangnya, upaya yang sungguh-sungguh ini tidak merupakan suatu aktivitas kontinyu yang berlanjut dan dilanjutkan generasi sesudahnya, terlebih beberapa abad terakhir. Akibatnya, pengembangan pemikiran terhadap studi hadis mengalami "kemandegan". Di antara indikasinya adalah adanya anggapan bahwa ilmu hadis sebagai suatu ilmu "yang sudah matang", juga adanya anggapan klaim "inkar al-sunnah" bila mencoba menelanjangi ilmu hadis dari berbagai segi.

Kesalahan persepsi dengan menganggap ilmu hadis atau studi hadis sebagai ilmu agama yang dogmatis dan tidak tergoyahkan menjadikannya tidak lagi pada dataran ilmu yang seharusnya, yang harus selalu dan terus mempertanyakan. Oleh karena itu, sudah saatnya dalam perubahan kehidupan masyarakat modern era globalisasi ini, kita yang banyak bergelut dengan ilmu ini, untuk mengkaji ulang pembekuan studi hadis tanpa melenyapkan otentisitas spiritualnya, pada sesuatu yang lebih menekankan perspektif ke depan dan bukan sebaliknya, yang regresif. Ajaran Islam lewat pisau kupas studi hadis bukanlah merupakan patokan angka matematis yang baku/kaku tetapi lentur.

Dengan demikian, bersikap kritis dalam studi hadis yang mengarah pada pengembangannya, bukanlah untuk melemahkan sendi-sendi akar ajaran Islam. Justeru sebaliknya memberi ruang gerak yang lentur dan dinamis, memberi gerak yang lebih luas untuk masa sekarang dan masa-masa berikutnya di mana tantangan zaman akan semakin kompleks.

Agar pengembangan studi hadis dapat terjaga keutuhan dan validitasnya, maka perlu dihampiri dengan pendekatan dari berbagai segi. Karena hadis Nabi yang sampai kepada kita merupakan teks --baik sanad maupun matannya, namun teks hadis berbeda dengan teks-teks yang lain, teks hadis merupakan suatu teks keagamaan--, maka studi teks hadis perlu pendekatan teks. Dalam kajian teks ada berbagai pendekatan kebahasaan, semisal pendekatan semantik, pendekatan semiotik, pendekatan filsafat bahasa, dan lain-lain merupakan suatu keniscayaan dalam berinteraksi dengan teks.

Demikian halnya dalam memahami teks hadis, kita juga harus melihat konteks ketika hadis Nabi muncul, untuk seterusnya mengaitkannya dengan konteks sekarang ini (kontekstualisasi). Upaya kontekstualisasi diperlukan berbagai pendekatan, semisal pendekatan historis, pendekatan filosofis dan pendekatan ilmu-ilmu sosial (antropologi, sosiologi, politik dan psikologi). Dengan pendekatan seperti ini antara studi hadis dengan ilmu yang lain "saling menyapa" bukan ekslusif. Inilah yang digagas oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga untuk pengembangan ilmu-ilmu keislaman dengan pendekatan integrasi-interkoneksi atau menurut istilah H.A. Mukti Ali dikenal dengan pendekatan "saintifik kum doktriner", sehingga menghasilkan pemahaman yang kontekstual. Pemahaman kontekstual bukan berarti meninggalkan teks sama sekali, tetapi pemahaman kontekstual yang dimaksud adalah mengaitkan teks dengan konteks, baik konteks ketika hadis muncul maupun konteks pada saat sekarang ini.

Pendekatan integrasi-interkoneksi terhadap studi hadis berarti juga mengaplikasikan teori-teori ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu modern lainnya melalui paradigma rasionalistik, empiristik, positifistik dan fenomenologik. Di samnping itu juga harus memperhatikan reaksi dan koreksi terhadap kebingungan ilmu-ilmu modern dengan upaya islamisasi pengetahuan.

Pengembangan studi hadis juga diarahkan untuk menutupi kekurangan ilmu-ilmu modern yang terjebak dalam scientisme dan simplisme yang mendalam, dengan berpegang pada prinsip dilahirkannya ilmu itu untuk kesejahteraan manusia, serta kelengkapan dan kesempurnaan manusia dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Jadi, dalam upaya pengembangan studi hadis agar keberaadaannya tetap utuh dan lengkap, maka studi hadis harus mengkaji dari aspek internalnya dan juga mempertimbangkan keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lain.

Tawaran Konstruksi Metodologi Pemahaman Hadis Nabi

Banyak pakar telah berupaya mengembangkan konstruk metodologi pemahaman hadis Nabi, di antaranya menurut penulis yang paling menarik adalah pemikiran Fazlurrahman. Fazlurrahman menawarkan beberapa konsep dalam memahami al-Qur'an, yakni: makna teks, latar belakang, menangkap ide moral yang dituju. Hermeneutika di atas pada dasarnya juga bisa diaplikasikan dalam memahami hadis Nabi.

Dengan demikian ada tiga langkah dalam memahami hadis Nabi yang ditawarkan Fazlurrahman, yaitu: 1) Memahami makna teks atauhadharah al-nash,dilakukan dengan kritik eidetis dan memantapkan bahwa teks di atas tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan hadis Nabi (kajian linguistik, kajian tematis komprehensif dan kajian konfirmatif); 2) Memahami latar belakang munculnya hadis Nabi dengan analisis realitas historis (hadharah al-ilm); 3) Memahami dengan menyarikan ide dasarnya (hadharah al-falsafah) dan mengaitkan relevansinya dengan konteks saat ini (kritik praksis).

Secara aplikatif metode yang ditawarkan Fazlurrahman dapat dikembangkan menjadi lima kriteria: (1). Memahami dari aspek bahasa, dalam hal ini bahasa Arab. Bahasa sebagai simbol dan sarana penyampaian makna atau gagasan tertentu, sehingga kajian diarahkan pada aspek semantik-nya yang mencakup makna leksikal (makna yang didapat dari kumpulan kosa kata) maupun makna gramatikal (makna yang ditimbulkan akibat penempatan ataupun perubahan dalam kalimat). Dalam kajian terhadap bahasa di sini, ada tiga kupasan yang dikaji, yakni: (a) perbedaan redaksi masing-masing periwayat hadis; (b) makna leksikal / harfiah terhadap lafad-lafad yang dianggap penting; (c) pemahaman tekstual matan hadis tersebut, dengan merujuk kamus Bahasa Arab maupun kitab-kitabsyarhhadis.

(2). Memahami konteks historis. Konteks historis dalam pengertian, kajian diarahkan pada kompilasi dan rekonstruksi sejarah dari data mikro (konteksasbab wurud al-hadissecara eksplisit dan implisit, serta konteks ketika hadis tersebut dimunculkan) dengan merujuk pada kitab-kitabsyarhdan sejarah.

(3). Mengkorelasikan secara tematik-komprehensif dan integral darinasal-Qur'an, teks hadis yang berkualitas (setema maupun kontradiktif yang berkualitassahihatauhasan), maupun realitas historis empiris, logika -- Logika di sini dalam pengertian pendapat umum /common senseyang telah diuji kebenarannya secara umum, reflektif dan intersubyektif -- serta teori ilmu pengetahuan.

(4). Memaknai teks dengan menyarikan ide dasarnya, dengan mempertimbangkan data-data sebelumnya. Untuk menyarikan ide dasar atau ide moral atauthe reality of meaningharus bisa "membedakan wilayah tekstual dan kontekstual", karena hadis pada dasarnya adalah produk dialogis-komunikatif-adaptif Nabi dengan umat Islam pada masanya. Ide moral, ide dasar,gayah,ini ditentukan dari makna di balik teks (tersirat), yang sifatnya universal, lintas ruang waktu, dan intersubyektif.

(5). Menganalisa pemahaman teks-teks hadis dengan berbagai teori dan mengaitkan relevansinya dengan konteks saat ini.

Pemahaman di atas akan menghasilkan pemahaman yang kontekstual. Mengenai "pemahaman hadis", secara garis besar--dari aspek "pendekatan" yang digunakan--dibagi menjadi dua kelompok.Pertama, kelompoktekstualisyang lebih mementingkan makna lahiriyyah teks. Kelompok ini berpandangan bahwa teks-teks agama (baik teks al-Qur'an, teks hadis, teks pemahaman terhadap al-Qur'an dan Hadis adalah sakral dana historis, harus diterima apa adanya). Kelompok pertama ini merujuk pemikiran-pemikiranmuhaddisin, mufassirinmaupunfuqaha'pada umumnya yang berkembang di berbagai ranah kajian sebagai sesuatu yang dogmatis, statis, tidak perlu diubah dan harus diterima apa adanya dengan kesakralan maknanya.

Kedua, kelompok kontekstualis yang lebih mengembangkan penalaran terhadap "konteks" yang berada di balik teks. Kelompok ini berpandangan bahwa teks-teks agama, bukan sesuatu yanga historis, bukan sesuatu yang muncul tanpa konteks tertentu. Oleh karenanya upaya pengembangan, reinterpretasi, dekonstruksi dan rekonstruksi pemahaman agama secara kontekstual perlu senantiasa dikembangkan.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom