Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Senin, 19 Oktober 2015 12:47:00 WIB Dilihat : 831 kali

Oleh: Muryana*

Konflik pada umumnya terjadi akibat tidak terpenuhinya kebutuhan hidup, dan gagalnya interaksi-komunikasi antar-individu di dalam masyarakat. Dalam ilmu psikologi, psikoterapi memiliki peranan yang sangat penting dalam resolusi konflik baik dalam skala kecil maupun skala yang lebih besar. Peranan tersebut terletak pada posisi terapis sebagai pendamping dalam penyelesaian konflik, sekaligus agamawan (bila terjadi pada kasus antar-agama) untuk membangkitkan harapan terhadap masa depan pasca konflik. Di dalam kasus kekerasan seksual dalam perkawinan, penerapan dan pengembangan psikoterapi menjadi sangat diperlukan. Psikoterapi Islami dalam hal ini merupakan resolusi terhadap kasus kekerasan seksual di dalam perkawinan yang sangat mungkin dikembangkan. Sehingga psikoterapi islami dapat berperan penting dalam usaha menurunkan angka perceraian sekaligus meminimalisir KDRT dan memberikan keadilan di dalam kehidupan rumah tangga.

Menurut A.A. Vahab, Psikoterapi Islami “merupakan bagian dari psikologi terapan Islami, yang berupaya menggambarkan dan menjelaskan penyebab penyakit mental dan perilaku abnormal individu dan kelompok serta penyembuhannya.” Cabang psikologi ini menggambarkan dan menjelaskan penyebab penyakit mental dan prilaku abnormal individu dan kelompok serta menyembuhkannya.(1996: 7) A.A. Vahab dan Djamaludin Ancok mendasarkan tujuan psikologi ini pada Q.S. Yunus (10): 57, yang artinya:

“Hai manusia, susungguhnya telah datang kepada mu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.”(Ancok & Nasori, 1994: 97)

Berdasarkan konsep tersebut, maka psikoterapi Islami yang ditawarkan oleh A.A. Vahab dan Djamaluddin Ancok tampak melegitimasi konsep dengan ayat-ayat al Qur’an. Djamaluddin Ancok mencoba menggali dari teori-teori yang dibangun oleh Barat kemudian mencari titik temu antara pengetahuan tersebut dengan konsep Islam. (Nashori, 1994: x) Demikian juga yang dilakukan oleh Malik B. Badri yang memulai pembahasan psikoterapi Islami dengan kritik terhadap konsep Freud yang menganggap bahwa agama adalah obsesi yang universal atau suatu ilusi, suatu neurosis yang universal, sejenis narkotika yang menghambat penggunaan inteligensi secara bebas dan harus ditinggalkan.

Pandangan tersebut berdampak pada model psikoterapi yang serba membebaskan dan secara moral terapis harus menunjukkan sikap netral dan empati. Oleh karena itu, Malik B. Badri menganggap bahwa kepercayaan pasien, dalam hal ini Islam merupakan bantuan yang sangat berharga dalam proses penyembuhan terhadap gangguan yang mereka alami. Dia mencoba menerapkan konsep tersebut dalam teknik desensitisasi pada pasien yang mengalami neurosis-obsesi terhadap shalat dan fobia terhadap kematian. (Badri, 1986: 56)

Berdasarkan penerapan teknik tersebut Malik B. Badri menegaskan kritiknya terhadap Freud bahwa pasien yang beragama Islam dan mengalami neurosisobsesi terhadap shalat tidak berarti harus meninggalkan shalatnya. Hal tersebut dikarenakan shalat merupakan ritual dalam agamanya dan menjadi kepercayaan yang dapat membantu dalam proses penyembuhan pasien. Akan tetapi, bagaimana stimulus yang tidak diinginkan dalam aktivitas shalatnya tersebut hilang dan sesuai dengan yang diajarkan. Oleh karena itu, Badri memberikan penjelasan kepada pasien untuk kembali melakukan shalat sebagaimana yang diajarkan. Begitu juga dengan pasien yang mengalami fobia terhadap kematian, Badri menjelaskan kembali kepada pasien tentang keyakinan kematian.

Sementara itu, Kekerasan dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan (KTP) yang terjadi pada arena domestik dan dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan perkawinan.36 Kekerasan seksual mengacu pada kekerasan rumah tangga yang terjadi sebelum, pada saat dan sesudah hubungan seksual berlangsung. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijkan UGM di empat provinsi sampel (Sumatra Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Papua) menunjukkan bahwa dari 2.081 orang responden yang berhasil diwawancara, 94 persen di antaranya mengaku pernah mengalami kekerasan seksual ataupun nonseksual.(Wattie, 2002: 2)

Hasil penelitian lain jumlah pelaku kekerasan seksual yang cukup signifikan justru dilakukan oleh laki-laki, suami itu sendiri. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh: Pertama, adanya budaya patriarkhi yang membenarkan bahwa laki-laki menguasai dan mengontrol perempuan. Kedua, pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama menimbulkan anggapan bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan. Ayat tentang “nusyuz” dalam al Qur’an membuat keyakinan bahwa laki-laki memang boleh memukul istri tanpa mempelajari lebih dahulu jauh tentang hal tersebut. Ketiga adalah peniruan melalui tayangan-tayangan televisi, film dan sebagainya, serta yang paling penting adalah pola komunikasi antara kedua orang tua di rumah. (Triningtyasasih, 1997: 5)

Persoalan seputar kekerasan di dalam rumah tangga dapat di atasi, antara lain, melalui psikoterapi islami yang tidak sebatas memberikan solusi atau pada tahap resolusi. Akan tetapi, psikoterapi islami juga relevan pada usaha transformasi konflik. Transformasi konflik yang dimaknai sebagai:

to envision and respond to the ebb and flow of social conflict as life-giving opportunities for creating contructive change processes that reduce violence, increase justice in direct interaction and social structures, and respond to real-life problems in human relationships.(Lederach, 2003: 14).

Dalam sebuah studi kasus, penulis melihat bahwa seorang survivor (sebutan pada para korban yang mampu keluar dari problem kejiwaan karena KDRT) telah melakukan transformasi, dari yang semula memandang konflik dengan mantan suami sebagai sesuatu yang negatif ia mampu merubah persepsinya menjadi. Dina, sang survivor, memandang konflik tersebut sebagai bagian dari hidup yang harus dihadapi dan dipelajari. Perubahan cara pandang tersebut tampak dari perubahan strategi dan taktik yang ia gunakan pada saat dia menghadapi permasalahan dalam perkawinannya yang kedua. Selain itu, transformasi juga dihasilkan dari psikoterapi Islami, dengan adanya ketulusan hati Dina, sang survivoruntuk selalu menciptakan damai bersama suaminya yang kedua. Di mana ketulusan hati merupakan salah satu modal dalam upaya transformasi konflik menurut Lederach. (Yevsyukova, 1995: 3)

Berdasarkan studi kasus Dina sang survivor, langkah-langkah terapi yang terdapat di dalam psikoterapi Islami sebenarnya berperan ganda, yaitu sebagai pendamping dalam KDRT yang menyelesaikan masalah dan pendamping pasca konflik terjadi. Seorang terapis di dalam psikoterapi Islami juga secara tidak langsung, sekaligus mempunyai fungsi dan peran sebagai agamawan, yang memberikan harapan dan sikap optimis pada masa depan pasca konflik. Terapis memberikan dorongan dan harapan dari sisi keagamaan korban konflik. Di sinilah, secara tepat teori Badri tentang tidak dapat terlepasnya budaya dan kepercayaan pasien dalam proses terapi terbukti. Selain itu, juga pendapat Zakiah Daradjat tentang eratnya hubungan agama dan ketenangan jiwa dalam proses penyembuhan gangguan jiwa. (Daradjat, 1988: 76)

*Muryana, S.Th.I., M.Hum. adalah peneliti di Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABEL) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom