Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Senin, 27 Juli 2015 11:57:55 WIB Dilihat : 3539 kali

MENGAPA HARUS USHULUDDIN?

Oleh: Fahruddin Faiz

Bagi saya, secara institusional Ushuluddin adalah nyawa bagi islamic-studies di Indonesia. UIN atau IAIN harus membuang huruf “I”-nya ketika Ushuluddin –baik sebagai fakultas maupun sebagai kategori keilmuan—disisihkan. Ushuluddin adalah basis identitas dan landasan pengembangan keilmuan di UIN maupun IAIN.

Dalam aspek “ekspektasi sosial”, Ushuluddin adalah harapan bagi lahirnya para intelektual muslim yang tinggi ilmunya, kokoh mentalitasnya, matang kepribadiannya, luas kosmos spiritualitasnya, lentur jiwanya, dewasa kehidupannya. Para sarjana Ushuluddin adalah para agen perubahan sosial dengan visi keislaman, dengan misi “rahmatan lil ‘alamin”, dalam kapasitas dirinya sebagai abdullah dan khalifatullah, melalui jalur kecermatan dalam membaca, kedalaman dalam refleksi, serta ketulusan dalam mencari solusi dan mengabdi.

Dalam aspek “ekspektasi akademik”, “body of Knowledge” keilmuan Ushuluddin memiliki karakter yang vital dan substansial dalam kehidupan, yaitu “pemikiran dan keagamaan (Islam)”, baik di level ontologis, epistemologis maupun aksiologis. Meskipun demikian, harus diakui, visi ilmiah sebagaimana diusung oleh Ushuluddin adalah anti-tesis terhadap kecenderunganpragmatis dan positivistik yang menjadi orientasi ilmiah hampir semua perguruan tinggi masa kini. Pragmatis dalam arti lebih melihat hasil dan manfaat langsung sesuatu;serta positivistik dalam arti lebih percaya kepada parameter yang nyata dan kongkrit. Dua orientasi inisecara umum pada akhirnya mereduksi ketertarikan dan minat orang kepada Ushuluddin karena Ushuluddin kemudian sering dianggap “menyebarkan ilmu langit” dan “aktifitas para pengkhayal”.

Paradigma pragmatis dan positivistik inilah kiranya yang membuat seorang calon mahasiswa ketika dihadapkan dengan aneka macam jurusan yang ditawarkan di satu universitas, pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah “Setelah kuliah di jurusan ini, lahan kerja apa yang siap menampung?”, dan bisa ditebak, Ushuluddin pasti tidak menjadi pilihan, dengan asumsi tidak ada lowongan pekerjaan masa kini yang secara definitif menyebut “dicari: seorang Mutakallim/Sufi/Filosof” yang notabene menjadi kompetensi Sarjana Ushuluddin.

Apabila dilihat sekilas, kajian Ushuluddin memang banyak disibukkan dengan kajian-kajian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan “langit” yang rasanya “jauh” dari kehidupan praktis dan nyata. Namun, benarkah demikian? Benarkah ushuluddin itu “ilmu langit” yang tidak memiliki “orientasi praktis” dan “manfaat nyata”?

Obyek kajian Ushuluddin sebenarnya sangat berhubungan dengan praksis. Bukankah hakikatnya seluruh bangunan keilmuan agama—termasuk Islamic-Studies—berawal dan berakhir dalam praksis keberagamaan para penganutnya? Lihat saja misalnya isu-isu fanatisme dan liberalisme keagamaan, konflik antar mazhab/aliran, kerusuhan sosial atas nama agama, fenomena saling mengkafirkan, lahirnya aliran aliran dan “nabi” baru, kegersangan spiritual manusia modern, saling memanfaatkan antara agama dan politik, dan lain sebagainya. Apakah semua problematika sosial-budaya-politik di atas—yang merupakan obyek material ilmu-ilmu Ushuluddin-- kurang kongkrit?

Diluar urusan ontologi keilmuannya, dari sisi epistemologi dan soft-skillyang ditanamkan pada mahasiswa melalui kekhasan ilmu-ilmunya, seorang mahasiswa Ushuluddin pasti terlatih untuk membaca secara kritis, menganalisis dan menyusun argumen secara logis, mengungkap asumsi-asumsi tersembunyi dari sebuah ide, serta mengekspresikan atau mengkomunikasikan ide dan pemikirannya—baik secara tulis maupun lisan—dengan jelas dan tepat. Kemampuan-kemampuan ini jelas sangat diperlukan untuk bidang-bidang yang lain seperti hukum, bisnis, kesehatan, jurnalisme, dan maupun politik.Bahkan kemampuan-kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata secara umum dan hampir dalam semua bidang, tidak hanya satu atau dua bidang saja.

Secara lebih detil,fakultas Ushuluddin, di sisi idealnya, secara langsung atau tidak, menanamkan keahlian (skill ) berikut:

  • Kemampuan Berpikir Kritis: Kemampuan untuk mengidentifikasi isu-isu utama dalam mengambil keputusan atau menyelesaikan masalah; serta kemampuan untuk menganalisis dan mencari jalan keluar terhadap berbagai permasalahan yang sifatnya kompleks.
  • Kemampuan Argumentasi: kemampuan untuk menghasilkan landasan-landasan yang mendalam dan jelas terhadap sudut pandang yang diambil; kemampuan untuk meyakinkan orang lain dengan alasan yang jelas dan kemampuan untuk memahami diri dengan segala keputusan yang diambil secara rasional.
  • Kemampuan Komunikasi: kemampuan untuk merangkum isi sebuah wacana secara jelas, ringkas dan obyektif, kemudian mampu menjelaskan ide-ide dan prinsip-prinsip yang kompleks dan rumit dalam bahasa yang mudah dipahami.
  • Kemampuan Perencanaan: kemampuan untuk memahami masalah atau menemukan peluang/kesempatan dari berbagai sudut pandang lalu merumuskan model-model tindakan yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah atau mengambil kesempatan yang dimaksud.

Oleh karena itu, saat membuat CV (curriculum-vitae/daftar diwayat hidup) untuk kepentingan-di tertentu, seorang sarjana ushuluddin bisa menulis hal-hal tersebut dalam kolom kemampuan/keahlian yang dimiliki.

Melihat berbagai keahlian yang diberikan filsafat di atas, kelemahan (atau mungkin tepatnya: kelebihan) Ushuluddin tidak terletak dalam tidak adanya relevansi atau manfaat praktis dengan dunia nyata atau dunia kerja, namun justru terletak dalam terlalu banyaknya bidang yang bisa dimasuki oleh para alumninya. Keahlian yang dimiliki oleh para sarjana Ushuluddin adalah keahlian yang dibutuhkan oleh hampir semua bidang profesi yang ada saat ini.

Ringkasnya, tidak mengherankan apabila ternyata para sarjana ushuluddin berkecimpung dalam variasi profesi yang sangat beragam. Tidak seperti alumni fakultas kedokteran yang ditunggu oleh lahan profesi dokter, alumni pendidikan yang ditunggu oleh lembaga pendidikan, alumni fakultas teknik yang ditunggu dunia tekhnisi, alumni ushuluddin bisa masuk ke berbagai bidang sesuai minatnya.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom