Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Rabu, 7 Oktober 2015 12:10:04 WIB Dilihat : 1846 kali

“PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN STUDI ILMU HADIS”

Pada Senin, 5 Oktober 2015 Program Studi Ilmu Hadis mengadakan Kuliah Umum yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis serta para dosen di lingkungan Program Studi Ilmu Hadis.

Pada kesempatan ini hadir ahli Ilmu Hadis, Prof. Dr. Suryadi, M.Ag, yang juga Guru Besar Prodi Ilmu Hadis sebagai nara sumber dari Kuliah Umum yang kali ini bertajuk: “Prospek, Tantangan, dan Arah Pengembangan Ilmu Hadis”. Pada awal pidatonya, Prof. Suryadi menyadari bahwa usaha kita pagi ini adalah mendiskusikan dua hal sekaligus, yakni arah mengembangkan studi Ilmu hadis sebagai orientasi pertama, sekaligus pengembangan Prodi Ilmu Hadis sebagai prodi baru di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSPI) UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Saat ditanyakan oleh moderator, Bapak Dadi Nurhaedi yang juga ketua program studi Ilmu hadis, tentang pentingnya studi Hadis saat ini, Prof. Suryadi menilai secara reflektif kita bisa melihat bahwa hingga saat ini kajian terhadap hadis nabi masih tetap menarik, selagi umat islam dan ajaran islam masih eksis, mengingat hadis nabi sebagai sumber utama ajaran islam, maka ilmu dan kajian tentang hadis pasti masih relevan.

Sayangnya apa yang lebih terlihat didepan publik adalah kemandegan atas kajian ini. Antara lain terjadi karena kajian Hadis lebih mengarah pada text oriented yang dibarengi dengan adanya truth claim yang berlebihan, sehingga di sisi lain penolakan/penyimpangan dari Hadis justru memunculkan adanya tuduhan inkar al-Sunnah. Akhirnya itulah yang tampak dalam masyarakat yakni banyaknya perbedaan pendapat khilafiyah yang terjadi karena masyarakat lebih suka membahas hukum dan melupakan etika.

Penjelasan Prof. Suryadi ini memunculkan banyak respon dari peserta diskusi. Miftahul Irsyad dan Deni Setyawan sebagai peserta diskusi bertanya tentang cara membuktikan relevansi ilmu dan kajian hadis dengan tantangan masa kini? Bila Imam Bukhari melakukan penelitian hadis dari segi sanadnya dan beliau menganggap bahwa apabila sanadnya bersambung maka matannya tidak perlu dikaji, maka yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim saat ini justru pemahaman tentang matan, begitu tandas Prof. Suryadi.

Untuk itu kajian dan Ilmu Hadis membutuhkan, pertama, pemahaman secara komprehensif tentang matan, dan kedua ilmu hadis harus mampu berkembang dengan menyapa ilmu-ilmu yang lain.

Dari diskusi yang diselenggarakan di Smart Room FUSPI ini berjalan sangat produktif, sebagaimana dituturkan oleh Bapak Dadi Nurhaedi, dapat disimpulkan bahwa studi Hadis harus mampu melampaui kajian konvensional atas Hadis yang menekankan pada kajian sanad, tetapi juga mampu menganalisa hingga pemahaman dan perilaku yang didasarkan oleh matan Hadis. Bahkan kajian tentang agama lain, jika hal itu diperlukan untuk memperkaya kajian atas hadis maka kita harus mampu melaksanakan secara rekonstruktif dan intersubjektif. (SKD via DS)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom