Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Rabu, 7 Maret 2018 09:46:27 WIB Dilihat : 60 kali

Persoalan kebhinnekaan merupakan persoalan pelik yang saat ini tengah mendera bangsa ini. Berbagai tindak intoleransi akhir-akhir ini semaki marak dipertontonkan di bumi pertiwi. Bertolak dari itu kemudian, Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam menggelar kuliah umum yang bertajuk problem disharmoni antarumat beragama di Indonesia.

Acara yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 5 Maret 2018 dari pukul 08.00-12.00 tersebut dibuka secara simbolis oleh ketua Prodi Magister Aqidah dan Filsafat Islam, Dr. H. Zuhri. Sebelum membuka acara ia memberikan ulasan tentang urgensi penyelenggaraan kuliah umum ini. Menurutnya kuliah umum ini memang ritual rutin di hampir semua kampus, sehingga terkesan biasa dan tidak istimewa tapi, kita tidak bisa meremehkannya. Banyak pemikir besar, seperti Ignaz Goldziher, yang karya-karyanya tidak lain adalah kompilasi dari kuliah-kuliah umum. Selain itu, kuliah umum ini juga bisa menjadi pemantik bagi para mahasiswa yang pada semeter ini mulai kuliah lagi. “Harapan saya apa yang disampaikan oleh pemateri nanti, bisa menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk dikembangkan lebih jauh dengan menggunakan perspektif dari konsentrasi-konsentrasi studi masing-masing”, pungkasnya.

Acara yang berlangsung di Smart Room Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Dr. A. Elga J. Sarapung dan Dr. Fatimah Husein, MA serta dimoderatori oleh Muryana, M. Hum. Pada kesempatan itu, Elga menjelaskan tentang akar-akar persoalan disharmoni yang terjadi di Indonesia. Dalam pengamatannya salah satu akar permasalahan adanya disharmoni antarumat beragama di Indonesia adalah karena kekeliruan dalam memahami dan memberlakukan empat hal, yaitu beragama, berpolitik, beruang, dan berkuasa. “Oleh karena itu, pemahaman akan keempat hal tersebut harus diluruskan. Keempat hal tersebut harus bertujuan pada kehidupan, bahkan kehidupan yang menghidupkan”, jelasnya.

Berbeda dengan Elga, Fatimah, dalam acara itu lebih menitikberatkan pembahasannya pada persoalan pemuda dan disharmoni antarumat beragama. Ia menjelaskan bahwa peran pemuda itu sangat menjanjikan untuk merajut harmoni antarumat beragama di masa depan. Dengan demikian, maka menurutnya kegiatan-kegiatan pemberdayaan pemuda dalam merajut harmoni antarumat beragama harus digalakkan. (admin)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom