Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Selasa, 21 November 2017 21:44:49 WIB Dilihat : 139 kali

YOGYAKARTA, Senin (20/11/2017) — Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) HumaiusH menyelenggarakan seminar nasional yang bertajuk “Pemuda dan Kemungkinan Literasi Zaman Now”. Acara yang berlangsung mulai pukul 08.30 sampai 12. 30 WIB tersebut bertempat di Convention Hall Lt. 2 UIN Sunan Kaljaga Yogyakarta.

Ferdiansyah, ketua panitia seminar nasional, mengungkapkan bahwa seminar tersebut diadakan bertolak dari data statistik yang diperoleh UNESCO pada tahun 2012, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Akan tetapi, hal ini tidak dapat langsung dibenarkan begitu saja, “karena banyak para aktivis literasi yang mengatakan bahwa bukan kesadaran membaca masyarakat yang bermasalah, melainkan minimnya distribusi buku, terutama ke daerah-daerah.” Papar mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Selain dari pada itu, sangat penting untuk terus melecut kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca dan menulis. Apalagi di abad sekarang di mana arus informasi deras membanjir sehingga antara fakta dan hoax terkadang begitu sulit dibedakan. “Di kehidupan kita saat ini kita harus betul-betul cerdas memilah dan milih informasi, jika tidak kita akan mengkonsumsi informasi yang tidak jelas validistasnya”, tutur Ulinnuha, Pimpinan Umum LPM HumaniusH.

Terkait term “pemuda” dan “zaman now” yang terbubuh pada tema seminar, Khairur Rozikin, Pimpinan Redaksi HumaniusH, menjelaskan bahwa saat ini 40,3% penduduk Indonesia tahun ini adalah generasi milenial. Generasi milenial atau generasi Z, generasi yang lahir antara tahun 1995 sampai 2000, sejatinya adalah generasi digital; generasi yang segala tindak-tanduknya tak pernah lepas dari yang namanya gadget. Sehingga dengan melihat persentase generasi milenial kita yang hampir mencapai 50% itu, kiranya akan melahirkan suatu kemungkinan baru terhadap budaya literasi kita. Atau literasi zaman now. “Apakah para generasi milenial akan membawa angin segar terhadap masa depan budaya literasi kita atau justru mereka akan terjebak pada budaya literasi instans? Itu perlu kita diskusikan” tutur Rosikin yang juga merupakan mahasiswa Studi Agama-agama.

Pada acara tersebut hadir pula Wakil Dekan III Fakultas Usuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Dr. Inayah Rohmaniyah, S. Ag, M. Hum., M.A. Dalam sambutannya, Ibu Inayah menyampaikan bahwa harus ada tindak lanjut atau realisasi yang nyata dari seminar ini. Sebab tema yang diangkat bukan saja isu nasional, tapi internasional.

Seminar ini dihadiri sekitar 200 orang mahasiswa. Selain dari civitas academica UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hadir pula mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi Yogyakarta, seperti Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Janabadra (UJB), Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Univesitas Islam Indonesia (UII), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Nahdatul Ulama (UNU), dan lain-lain.

Adapun pemateri pada acara tersebut adalah Faiz Ahsoul, aktivis literasi dan pengolola I:Boekoe (Indonesia Buku); David Evendi, Pembina Rumah Baca Komunitas; dan Taufiqurrahman, penulis buku Jejak-jejak Pencarian: Esai-esai Filsafat dan penulis emerging Indonesia Ubud Writers & Readers Festival 2017. Sedangkan yang memoderatori jalannya seminar tersebut adalah Muchammad Muslich, aktivis Lesehan Pustaka.

Dalam kesempatan tersebut, Faiz Ahsoul menyampaikan bahwa pandangan bangsa-bangsa lain terhadap budaya literasi kita cenderung memosikan bangsa ini sebagai bangsa ketiga. Artinya prasangka bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang belum melek baca tidak bisa dibenarkan. “Secara genetik, bangsa kita adalah bangsa literer. Berabad-abad lalu nenek moyang kita telah memililiki tradisi literer. Sebut saja teks-teks Negarakartagama, Ilaga Linglung, Serat Centini, dan lain sebagainya, itu adalah bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa literer.”

Faiz Ahsoul dan David Efendi mengatakan bahwa membaca bukan sekedar hiburan, melainkan juga ideologi. Menerut mereka tidak ada alasan lagi bagi anak zaman now untuk tidak membaca, karena saat ini akses untuk membaca begitu mudah kita dapatkan, e-book-e-book sudah bertebaran, bahkan di google kita bisa mengakses buku-buku melalui Google Books.

Namun, mereka menyatakan bahwa hanya saja kita perlu bijak memilih bacaan, jika ada artikel-artikel atau informasi yang tidak jelas sumbernya tidak perlu kita respons lebih jauh, supaya kita tidak mengkonsumsi informasi hoax.

Sedangkan menurut Taufiqurrahman, dalam makalah yang ia sampaikan pada seminar tersebut, sekarang kita memang sudah melek tulisan. Banyak jalinan peristiwa yang datang pada kita dalam bentuk teks. Dan kita membacanya. Mulai dari berita politik, berita seorang teman, berita artis, dan lain sebagainya. Dan pada momen seperti itulah sebenarnya kemampuan membaca dan menulis harus disertai dengan pikiran rasional yang kritis. Gerakan literasi tidak cukup hanya dengan upaya meningkatkan minat membaca dan menulis, tetapi juga mesti bisa memupuk kemampuan berpikir kritis. Begitulah jelas Taufiqqurrahman.

Pada seminar yang juga dimeriahkan musikalisasi puisi Komunitas Kutub tersebut, Faisal, mahasiswa Fakultus Syariah UIN Sunan Kalijaga, mengakatakan, “saya senang mengikuti seminar ini. Ada banyak ilmu yang saya dapat dari pengalaman-pengalaman para aktivis literasi yang jadi pemateri tadi”.[humaniush]

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom