Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Rabu, 16 Desember 2015 15:15:46 WIB Dilihat : 1521 kali

Peta kajian al-Qur’an dan hadis dikaji akademisi dari berbagai dosen PTKIN di Indonesia dalam Seminar Tahunan Qur’an and Hadith Academic Society (QUHAS) 2015 pada tanggal 3 Desember 2015. Tema ini sengaja diusung oleh panitia di mana terdapat perkembangan studi kajian al-Qur’an dan hadis seiring dengan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh kementrian Agama. Seiring dengan keluarnya pembidangan keilmuan dalam KMA No. 36 tahun 2009, di mana studi keilmuan Tafsir Hadis dijadikan dua prodi yakni Ilmu al-Qur’an dan Tafsir serta Ilmu Hadis. Hal ini didukung oleh Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 3389 tahun 2013 tentang penamaan perguruan tinggi agama Islam, fakultas dan jurusan pada perguruan tinggi agama Islam. Walaupun dalam sejarahnya, kajian Hadis selalu bergandengan tangan dengan Studi al-Qur’an. Hal ini karena keduanya merupakan sumber ajaran Islam. Dalam perkembangan terakhir, di PTKIN dan berdasarkan data terakhir penerimaan mahasiswa baru tentang UKT kementrian Agama RI berdasarkan KMA No. 124 tahun 2015 terdapat berbagai ragam PTKIN yang telah membuka prodi Ilmu hadis selain prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.

Kajian hadis di Indonesia bisa dikatakan masih lemah, kondisi ini dibuktikan dengan minimnya karya dan penelitian dalam bidang hadis yang dipublikasikan. Terdapat beberapa faktor menyebabkan kondisi ini, diantaranya pertama, minimnya ilmuan atau para peneliti yang berminat terhadap kajian hadis; kedua, masih banyak yang anggapan yang keliru terhadap kajian hadis, selama ini kajian hadis hanya dipandang untuk kalangan salafi yang bersifat tradisionalis; ketiga, minimnya pengembangan kajian hadis yang variatif, selama ini kajian hadis hanya sebatas dari segi normatife; keempat, tidak adanya jurnal yang terbit khusus untuk kajian hadis.

Fakta di atas umumnya disebabkan karena minimnya kajian dan pelatihan penelitian hadis yang dilakukan. Jika kita bandingkan dengan kegiatan pelatihan dalam bidang al-Qur’an, pelatihan dalam bidang hadis dapat dikatakan tertinggal beberapa langkah. Untuk itu diperlukan forum khusus sehingga para mahasiswa, peneliti, dosen atau pihak lain dapat mengetahui objek apa saja yang dapat dijadikan bahan penelitian dan stretegi yang tepat untuk melakukan penelitian hadis.

Berkenaan dengan perubahan nomenklatur keilmuan di Kementerian Agama, berdasarkan SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam No. 4979 tahun 2014 tertanggal 5 September 2014 dimana jurusan Tafsir Hadis kini dipecah menjadi dua jurusan/prodi, Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IAT ) dan Ilmu Hadis (Ilha). Sampai tahun akademik 2015/2016 jurusan Ilmu Hadis di PTKIN berjumlah 16, sementara yang hanya membuka Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir 32 dan masih dalam bentuk yang lama Tafsir Hadis ada 9 buah PTKIN.

Berdasarkan informasi dari KMA No. 124 tahun 2015 tentang Besaran UKT, maka PTKIN yang membuka jurusan/prodi Ilmu Hadis, Ilmu al-Qur’an dan Hadis dan Tafsir Hadis adalah sebanyak 16 PTKIN antara lain UIN Alauddin Makassar, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sumatera Utara Medan, IAIN Bengkulu, IAIN Bukit Tinggi, IAIN Jember, IAIN Raden Intan Lampung, IAIN Salatiga (Ushuluddin Adab dan Humaniora), IAIN Sultan Amai Gorontalo (Usuluddin dan Dakwah), IAIN Banten, STAIN Kudus (Ushuluddin), STAIN Kediri (Ushuluddin), STAIN Batu Sangkar (Syari’ah dan Ekonomi Islam), IAIN Sjek Nurjati Cirebon (Ushuluddin, Adab dan Dakwah) dan IAIN Banten (Ushuluddin, Adab dan Dakwah). Beberapa daerah memnungkinkan untuk membuka jurusan/prodi tersebut.

Beberapa PTKIN masih menggunakan tradisi lama yaitu Tafsir Hadis sebanayk 9 PTKIN antara lain: UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sultan Syarif Qosim Riau, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sumatera Utara Medan, IAIN Surakarta, IAIN Jambi, STAIN Pekalongan (Ushuluddin) dan STAIN Ponorogo (Ushuluddin dan Dakwah). Sementara beberapa PTKIN hanya membuat prodi IAT saja tidak membuka Ilmu Hadis antara lain: UIN ar-Raniry Aceh, IAIN Kendari, IAIN Langsa Aceh, IAIN Manado, IAIN Raden Intan Lampung, IAIN Mataram, IAIN Samarinda (Ushuluddin dan Dakwah), IAIN Palangkaraya, IAIN Palopo, IAIN Pattimura, IAIN Purwokerto (Ushuluddin Adab dan Humaniora), IAIN Banten (Ushuluddin, Adab dan Dakwah), IAIN Tulung Agung (Ushuluddin, Adab dan Dakwah), IAIN Sjech Nurjati Cirebon (Ushuluddin, Adab dan Dakwah) dan IAIN Ternate (Ushuluddin, Adab dan Dakwah)

Sesi Pertama: “Kajian al-Qur’an dan Hadis di InstitusiPendidikan Islam di Indonesia, Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, M.Ag. (UIN Alauddin Makassar): “Kecenderungan Kajian Hadis di UIN Alauddin Makassar.” Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag (UIN SunanKalijaga Yogyakarta): “Ragam Studi Hadis di PTAI Indonesia dan Karakteristiknya.” Farah NurilIzzah, LC., MA (IAIN Purwokerto): “Peta Perkembangan Literatur Hadis di Pesantren.” Dan Dr. Lilik Ummi Kultsum, MA (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): “Perkembangan Kajian Al-Qur’an di Prodi Tafsir Hadis Menuju KKNI.”

Sesi Kedua: “Living Qur’an dan Living Hadith di Indonesia” dengan narasumber Prof. Muhamad Ali, PhD (University of California, Riverside, AS): “Dari Kajian Naskah kepadaLiving Qur’an dan Living Hadis: Pengantar Metodologi Penelitian Kontemporer Al-Qur’an dan Hadis. Rifqi Muhammad Fathi, MA (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): “The Use and Non Use of Hadith on Religious Practices of Indonesian Muslims.” DidiJunaedi, M.A (IAIN Syekh Nurjati Cirebon): “LIVING QUR’AN: Sebuah Pendekatan Baru dalam Kajian Al-Qur’an (Studi Kasus di Pondok Pesantren As-Siroj Al-Hasan Desa Kalimukti Kec. Pabedilan Kab. Cirebon).” Dan Dr. Naqiyah (STAIN Purwokerto) “How you be a Hafiz Al-Qur'an in 40 days.”

Sesi Ketiga: “Kajian al-Qur’an dan Hadis di Indonesia dalam Ragam Pendekatan Lain” dengan narasumber Dr. Atiyatul Ulya, M.Ag (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): “Pemahaman Hadis Pendekatan Jender di Indonesia”, Kusmana, MA (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): “Perkembangan Tafsir Maqasidi dalam Konteks Indonesia Modern”, Izza Rohman, MA (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA): “Perlakuan M. Quraish Shihab terhadap PandanganTafsir al-Tabataba’i.” Dan Dr. Eva Fahrun Nisa Amrullah (PSQ): “Ragam Pengkajian al-Qur’an di PSQ”

Yusuf Rahman selaku ketua panitia memuji UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang senantiasa progresif dalam mengembangkan kajian studi hadis. Barometer kajian hadis di Indonesia dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan disinilah terjadinya PTKIN lain yang berupaya mengembangkan namun secara terbatas. (MAS)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom