Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Senin, 30 Januari 2017 10:49:29 WIB Dilihat : 174 kali
Hari:Selasa
Tanggal:31 Januari 2017
Jam:09:00:00 s.d. 12:00:00 WIB
Tempat:Smart Room Lantai II Fakultas ushuluddin dan Pemikiran Islam
Deskripsi :

(ber)Agama di Belanda: Catatan seorang Peziarah

Ahmad Salehudin

Agama dan budaya selalu dalam proses dialektik: saling memberi dan menerima, saling mempengaruhi, saling berebut ruang, dan bahkan tidak jarang saling menegasikan. Fenomena ini akan selalu ditemui ketika mem(per)bincang(kan) agama sebagai fenomena yang hidup, yang mengejawantah dalam kehidupan bermasyarakat. Gagal melihat dan memposisikan fenomena dialektik tersebut akan gagal pula dalam memahami (fenomena) agama.

Agama (akan) selalu hadir untuk memenuhi ruang-ruang kosong; ruang-ruang yang tidak terisi dari sebuah bidang ruang. Oleh karena agama bersifat mengisi, maka bentuk agama akan cenderung menyesuaikan dengan ruang-ruang kosong yang hendak diisinya. Celakanya, jika tidak ada ruang kosong dalam sebuah bidang, maka agama juga tidak akan memiliki tempat.

Diskusi ini –sebagaimana judul yang telah disampaikan-- akan membahas fenomena (ber)agama di Belanda: catatan seorang peziarah. Sebagai sebuah catatan peziarah, tentunya yang akan dibahas bukan hasil penelitian yang dilakukan secara serius mendalam, tetapi sekedar kesan dan persepsi atas “pertemuan pertama” sang peziarang dengan kebudayaan Belanda. Tentu saja, kesan dan persepsi tersebut sangat dipengaruhi oleh “bekal” yang peziarah telah memiliki. Oleh karenanya, mungkin saja bagi peziarah sesuatu yang penting, tetapi merupakan hal yang biasa bagi orang lain.

Dengan menggunakan setting tinggal beberapa hari di Belanda, secara garis besar ada tiga hal yang akan didiskusikan. Pertama, bagaimana kita (harus) beragama? Pertanyaan ini penting didiskusikan karena kondisi Indonesia dan Belanda sangat jauh berbeda. Tidak hanya perbedaan waktu antara Belanda dan Indonesia yang mencapai 6 Jam, tetapi juga siklus siang dan malam yang juga berbeda, cuaca yang cenderung ektrim (suhu bisa minus), dan lain sebagainya. Misalnya, jika siang hari mencapai 18-19 Jam, apakah puasa yang dilakukan masih harus terbit fajar dan terbenam matahari? Selain itu, kita dapat membincang aurat, cara bersesuci, dll. Dalam sebuah kesempatan, seorang kawan berkata, “jika ingin belajar Islam jangan ke Belanda, yang ada kemungkinan kita akan kehilangan Islam kita”.

Kedua, bagaimana berhubungan dengan mereka berbeda (agama dan negara)? Pertanyaan ini penting diajukan dalam masyarakat (negara) yang sekular dan individualis. Agama merupakan urusan masing-masing individu, sehingga setiap orang tidak berhak “mencampuri dan kepo” dengan agama orang lain. Kita boleh mengekspresikan keberagamaan kita dengan cara kita masing-masing, dan itu dilindungi oleh negara.  dan Ketiga, perlukah beragama? Pertanyaan ini sengaja diajukan pada bagian akhir sebagai bahan refleksi dan “ujian” atas agama yang kita anut. Untuk memulai diskusi ketiga ini, tentu saja, kita perlu memulainya dengan pertanyaan, “mengapa Anda beragama?”        

Dalam diskusi ini, pendekatan evolusi terhadap agama akan digunakan. Dengan kata lain, agama akan diposisikan sebagai bagian dari hasil kebudayaan masyarakat yang cenderung akan berubah sesuai dengan perubahan manusia. 

Agenda Terkait

    Belum ada data

Agenda Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom